Melestarikan tradisi, begitulah yang dilakukan Danang Prasetyo Laksono, seorang seniman asal Kecamatan Gondang. Dia mampu memproduksi kelapa gading lukis yang kerap digunakan untuk tradisi mitoni atau upacara usia kehamilan 7 bulanan.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Gondang, Radar Tulungagung
Dua buah kelapa muda berwarna kuning atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan cengkir gading atau kelapa gading tampak terjajar di sebuah meja kecil di teras rumah kediaman Danang Prasetyo Laksono. Yakni di Desa Rejosari, Kecamatan Gondang. Tak sekadar kelapa gading, rupanya kelapa-kelapa ini akan dilukis tokoh pewayangan Rama dan Sinta. Ini karena kelapa gading masih kerap digunakan dalam beberapa tradisi masyarakat. Salah satunya acara 7 bulanan usia kehamilan atau mitoni.
Namun, tak sedikit yang mulai melupakan tradisi tersebut. Hal ini menggerakkan Danang Prasetyo Laksono, salah seorang seniman berbakat yang juga perajin kelapa gading. Di tangan dinginnya, kelapa-kelapa gading ini dimanfaatkan sebagai media lukis untuk melengkapi tradisi mitoni. “Di tradisi Jawa, upacara mitoni masih sering digelar supaya si ibu dan calon bayi dapat sehat hingga persalinan,” jelasnya mengawali cerita.
Danang mengatakan, sesuai tradisi, dua kelapa gading ini sebagai simbol harapan dari keluarga agar proses persalinan berjalan lancar dan anak yang lahir sehat, sempurna, tanpa kekurangan suatu apa pun. Untuk itu, kelapa gading ini dimaknai seperti sebuah janin yang sedang dikandung. Itulah mengapa kelapa gading kerap diberi gambar tokoh pewayangan. “Ini saya sedang membuat tokoh Rama dan Sinta. Ini sebagai harapan dari keluarga sang calon bayi yang lahir dapat lahir sehat dan sempurna. Jika laki-laki bisa setampan Rama dan jika perempuan bisa secantik Sinta,” bebernya.
Pria kelahiran 29 Mei 1990 ini mengungkapkan, awal mula menekuni kerajinan ini karena ada salah satu teman yang akan menggelar acara mitoni. Namun karena kesulitan untuk mendapatkan kelapa gading, dia pun mencoba untuk membuatkannya. Dengan bermodal keterampilan gambar yang dimilikinya, dia pun menggunakan kelapa gading sebagai media Lukis. Tak disangka, hasil lukisannya mendapat respons positif dari teman-temannya. “Dari situ, pesanan mulai berdatangan, meminta saya agar dibuatkan kelapa gading ini untuk acara mitoni,” ujarnya.
Bapak dua anak ini mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan dalam melukis. Sebab, sedari kecil memang terbiasa dengan dunia gambar. Namun bedanya, ini memanfaatkan kelapa yang relatif kecil untuk media gambar. Selain ukurannya kecil, struktur kulit buah kelapa yang cenderung tidak 100 persen bersih juga menjadi tantangan. “Terkadang ada bagian yang luka atau hitam-hitam begini. Jadi ketika dilukis, harus pandai mengakalinya,” imbuhnya seraya menunjukkan bagian struktur kelapa yang hitam.
Danang mengaku, untuk menggambar kelapa gading, memilih memanfaatkan media cat minyak daripada goresan paku. Ini lantaran jika menggunakan paku, akan menimbulkan bekas kehitaman pada kulit kelapa. Sehingga gambar yang timbul juga tidak dapat mulus bersih. Tak hanya itu, dengan melukis, menurutnya membuat gambar yang dihasilkan terkesan lebih detail dan nyata. “Karena kalau dilukis bisa sampai ke bagian terkecilnya. Kalau dengan paku tidak sedetail dilukis karena memang hanya disayat-sayat saja,” terangnya.
Pria 31 tahun ini berharap kegiatannya ini dapat menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya. Seperti mengenalkan tokoh pewayangan kepada generasi muda hingga tradisi-tradisi Jawa lain yang sarat akan makna. “Karena tradisi seperti mitoni ini juga sudah mulai dilupakan. Semoga adanya kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk pelestarian budaya,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq