Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menengok Para Perajin di Kampung Wisata Batik Turi selama Pandemi

Choirurrozaq • Senin, 28 Juni 2021 | 18:50 WIB
Di Jawa Timur mulai dari seni tradisi, adat istiadat, hingga nilai kehidupan masyarakat, semua bisa dijadikan bahan pembelajaran yang menarik dan mendalam.
Di Jawa Timur mulai dari seni tradisi, adat istiadat, hingga nilai kehidupan masyarakat, semua bisa dijadikan bahan pembelajaran yang menarik dan mendalam.

Pandemi Covid-19 juga berdampak pada produktivitas perajin Batik Turi di Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo. Penjualan sempat merosot hingga 50 persen. Sejumlah upaya dilakukan agar sentra batik itu tetap bertahan.


 


MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Sukorejo, Radar Blitar


 


Mendung bergelayut di atas langit Kota Blitar pada Jumat siang (26/6) lalu. Beberapa orang terlihat sibuk mengangkat beberapa lembaran kain batik yang tengah dijemur.


Hanya ada beberapa lembar kain batik yang sedang dijemur. Semuanya sudah kering tinggal nglorod atau proses akhir membatik untuk menghilangkan lilin dengan air panas. "Kalau cuaca mendung seperti ini juga jadi kendala. Proses produksi memakan waktu lebih lama," beber Ketua Kelompok Batik Turi Parianto kepada Koran ini beberapa waktu lalu.


Saat Koran ini berkunjung ke Kampung Batik Turi tersebut, aktivitas membatik sedang berlangsung. Beberapa orang terlihat fokus membatik di lembaran kain yang dibentangkan. Ada juga yang sibuk mewarna batik.


Sebagian yang lain menyiapkan air panas untuk proses nglorod. Jika air telah mendidih, lembaran kain batik yang sudah selesai langsung dicelupkan ke air panas untuk menghilangkan lilin. Setelah itu, dicuci dan kemudian dijemur hingga kering.


Sejak pandemi menghantam, aktivitas membatik di kampung batik tersebut tetap berjalan. Hanya saja, pengerjaannya cenderung dilakukan di rumah anggota kelompok masing-masing.


Produksi batik turi di kampung wisata ini memang sifatnya pemberdayaan. Semua hasil karya batik turi tersebut dikerjakan oleh anggota kelompok. "Di sini hanya satu kelompok saja. Anggotanya sekarang ada 29 orang," ungkapnya.


Merebaknya wabah virus dari Wuhan, Tiongkok ini tak membuat produksi batik turi berhenti. Parianto dan kawan-kawan memilih untuk tetap produktif meskipun harus menghadapi dampak berat yang dirasakan.


Dampaknya, penjualan batik merosot tajam. Turun hingga 50 persen. Sebelum pandemi, penjualan batik Turi bisa mencapai 70-100 lembar per hari. "Pandemi ini paling banyak 15-20 lembar. Menurun drastis," tuturnya.


Namun, tahun ini penjualan berangsur mulai meningkat. Apalagi sejak ada instruksi dari Wali Kota Santoso agar para pegawai membeli produk-produk lokal. Tujuannya tentu untuk mendongkrak perekonomian masyarakat di tengah situasi pandemi Covid-19.


Hal itu membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM), termasuk perajin batik di Kampung Batik Turi. Meskipun itu belum signifikan.


Untuk menggenjot penjualan, sejumlah upaya dilakukan. Salah satunya fokus berjualan secara online. Sejumlah platform media sosial (medsos) dimanfaatkan. "Semua anggota kami arahkan sebisa mungkin berjualan online. Caranya dengan mempromosikan produk batik ke grup-grup WA ataupun ke medsos," beber pria ramah ini.


Alhasil, promosi tersebut mendapat respons positif. Tidak sedikit orang yang tertarik dan membeli produk batik turi. Konsumennya pun tembus hingga luar Pulau Jawa.


Untuk harga batik turi bervariasi. Baik batik tulis maupun batik cap. Mulai dibanderol Rp 165 ribu hingga Rp 700 ribu. Semakin tinggi harga menandakan tingkat kerumitan dan lamanya proses membatik. Khususnya pada batik tulis.


Sejauh ini, konsumen paling banyak datang dari warga lokal. Seiring penjualan secara daring, konsumen merambah luar daerah. Ada dari Bandung, Solo, hingga Madura. "Dari Australia juga ada. Langganan tetap setahun sekali," akunya.


Di Kampung Batik Turi tak sekadar fokus memproduksi dan menjual, tapi juga menjadi wisata edukasi. Biasanya, setiap pengunjung wisata selalu mampir ke kampung batik untuk belajar tentang batik turi khas Kota Blitar tersebut. (*)

Editor : Choirurrozaq