Di tengah gempuran pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, aktivitas perekonomian di pasar tradisional tetap berjalan. Tak terkecuali di pasar sepeda loak yang berada di sebelah timur Pasar Templek, Kota Blitar.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Kepanjenkidul, Radar Blitar
Kring... kring... kring, bunyi bel sepeda langsung terdengar menggema ketika memasuki gerbang pasar sepeda dan loak di kawasan Pasar Templek di Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul, kemarin (1/7). Bunyi bel itu bersumber dari sepeda kuno yang dipajang berjajar di dalam pasar.
Pagi itu aktivitas perdagangan di pasar yang akrab dikenal Pasar Mbelehan itu berjalan seperti biasa. Sejumlah pedagang sepeda tengah duduk-duduk santai di lantai menunggu pembeli datang. Terutama pedagang sepeda jadul alias kuno yang berada di los.
Kebetulan kemarin merupakan hari pasaran jualan sepeda. Jatuh setiap Pon dan Legi, menurut penanggalan Jawa. Sejumlah pedagang sepeda kuno maupun jadul berkumpul di pasar sepeda dan loak tersebut. Mereka datang dari berbagai wilayah di Blitar.
Kurang lebih ada 50 pedagang sepeda kuno yang berjualan. Namun, tidak semua pedagang hadir menjajakan dagangan sepedanya. "Kalau hari Pon begini pedagang sepi. Tidak semua hadir. Justru yang pas pasaran Legi jauh lebih banyak. Rame," ujar Suprapto, salah satu pedagang sepeda kuno kepada Koran ini, kemarin.
Di pasar sepeda itu ada dua los yang disediakan. Ukurannya sekitar 3x10 meter. Los itu dimanfaatkan untuk memajang dagangan sepeda kuno.
Tentunya, sepeda kuno yang dijual bukan barang baru. Melainkan sudah bekas pakai. Namun, nilai sejarah dari sepeda onthel cukup berkesan di Indonesia. Rata-rata merupakan sepeda keluaran era penjajahan Belanda. Ada berbagai model dan merek yang dijual.
Seperti sepeda onthel atau sepeda jengki. Sebagian orang juga menyebutnya sepeda Jawa.
Salah satunya sepeda onthel milik Suprapto, bermerek Phoenix. Warga Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, ini sudah lebih dari 10 tahun berdagang sepeda kuno di pasar tersebut. "Ini juga dapat hasil beli dari seseorang. Lalu saya jual lagi," ungkapnya.
Kondisi sepeda milik pria berusia 75 tahun itu juga sudah usang. Rangka besi sepedanya sudah berkarat. Tetapi dia menjamin sebagian besar sparepart-nya masih orisinal alias asli. "Masih bisa dipakai," ujar pria yang sehari-hari juga bertani ini.
Sepeda miliknya itu dibanderol dengan harga sekitar Rp 1,7 juta. Dengan harga tersebut, masih tetap ada yang menawar. "Ya, namanya juga berdagang. Pasti ada yang menawar," ujar pria yang rambutnya sudah memutih itu.
Rata-rata pembeli yang datang tidak hanya warga Blitar. Tapi juga ada dari luar Blitar. Seperti ada dari Kediri dan Tulungagung.
Rata-rata para pembeli ini memang penghobi sepeda kuno. Mereka mencari sepeda kuno yang kemudian akan direstorasi atau diperbarui kembali.
Namun, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini berdampak pada penjualan. Pasar otomatis menjadi sepi pembeli. "Mungkin mereka yang mau beli mikir-mikir. Tapi kalo memang sudah hobi, beda lagi ceritanya," terangnya lantas tertawa.
Pedagang lain, Sumaji, juga mengungkapkan hal senada. Pandemi ini berdampak pada penjualan. Meski begitu, tidak berpengaruh terlalu besar.
Namun di sisi lain, menurut dia, kondisi untuk beberapa hari ke depan bakal jadi lebih berat. Pasalnya, usaha warung makannya di tempat wisata Makam Bung Karno (MBK) terimbas penutupan wisata karena kebijakan pengetatan PPKM darurat. "Sementara penghasilan untuk kehidupan sehari-hari dari jualan sepeda ini. Itu pun kalau laku," ujar pria ramah ini.
Di pasar sepeda dan loak itu, sebagian besar pedagang sepeda kuno merupakan orang-orang sepuh atau berusia lanjut. Mereka berkumpul setiap hari pasaran. Datang dari sejumlah wilayah di Blitar.
Mereka adalah pedagang murni. Setiap kali mendapat sepeda kuno, kemudian dijual kembali. Uang hasil penjualan dibelikan lagi. Terus diputar untuk memperoleh sedikit keuntungan.
Harga sepeda onthel yang dijual di pasar tersebut bervariasi. Berkisar mulai ratusan ribu hingga jutaan. "Paling tinggi harganya Rp 2,5 juta. Itu tergantung kondisi sepeda juga. Kalau bagus ya harganya lebih tinggi," ujar warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan ini.
Selain merek Phoenix, beberapa merek sepeda lain pabrikan luar negeri juga ditemukan. Di antaranya ada Raleigh (Inggris), Gazelle (Belanda), hingga Castle (Australia).
Yang pasti, bagi para pencinta sepeda kuno atau sepeda onthel, harga maupun kondisi sepeda yang dijual bukan lagi jadi persoalan. Namun, nilai sejarah dari sepeda itu yang menjadi patokan. (*)
Editor : Choirurrozaq