Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Penari Sanggar Lestari Widodo Wiyartama Raih Prestasi Nasional

Choirurrozaq • Selasa, 6 Juli 2021 | 21:57 WIB

Pandemi Covid-19 bukan jadi penghalang penari dari Sanggar Lestari Widodo Wiyartama berprestasi. Buktinya mereka mampu meraih prestasi di tingkat nasional di tengah pembatasan aktivitas dan mobilitas. Itu tak lepas komitmennya dalam melestarikan seni budaya.


SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kauman, Radar Tulungagung


Sore kemarin (5/7), cuaca terlihat cerah. Seolah matahari enggan meredupkan cahayanya. Tak heran, membuat siapapun betah beraktivitas. Termasuk, anak sanggar Lestari Widodo Wiyartama.


Dengan tepukan tangan Hapsari Mustikaningrum yang merupakan salah satu pelatih, para penari Sanggar Lestari Widodo yang masih berusia remaja tampak kompak melenggak-lenggokan tubuh yang seirama dengan iringan musik tradisional. Namun dia tampak sibuk mondar mandir, untuk memperbaiki gerakan penarinya yang salah. Agar kedepannya terbiasa menari dengan benar.


“Kalau sudah ngajar gini, sudah nggak bisa diganggu. Karena saya harus mengawasi betul gerakan mereka agar seirama dan kompak,” ucap Hapsari saat ditemui Koran ini.


Gadis asal Mojoarum, Kecamatan Gondang ini mengatakan, selama pandemi, kegiatan sanggarnya terus berjalan. Itu tak lepas dari komitmennya menjaga kesenian tradisional agar tetap bisa lestari dan diwarisi. Tak jarang mengajak, anak didiknya untuk mengasah diri dengan mengikuti event-event tari.


“Walaupun situasi sedang pandemi, bukan jadi penghambat untuk tidak berkarya. Terbaru prestasi kami yaitu meraih juara III di Tradisional Modern Dance (TMD) National Competetion,” jelasnya.


Meraihnya, diakui Hapsari, tidaklah mudah. Apalagi, di situasi pandemi Covid-19 ini.  Makanya, selama latihan selalu menekankan untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Seperti wajib masker, cuci tangan dan jaga jarak.


“Untuk lomba itu, kebetulan persiapanya di bulan puasa kemarin. Tentu, ada tantangan yang harus kami hadapi. Yakni, harus pintar menyimpan energi karena sedang berpuasa, dan jaga diri dari virus korona karena situasi pandemi,” jelasnya.


Namun demikian, anak tarinya yaitu Cinthia Pebriani Putri, Syafira Putri Arindya, Dhea Febty Ednaweninda, Mohammad Dafit Pratama, Adhika Putra Mahesya, Refi Andreansyah dan Hendra Armandauw, tampak percaya diri mengikuti lomba itu. Meski harus empat kali pengambilan video untuk dikirim ke panitia.  “Lumayan repot ya kalau ikut lomba virtual. Harus bolak-balik take video. Kalau salah harus ngulangi dari awal, belum lagi energi yang semakin terkuras,” katanya.


Namun, kerja kerasnya terbayar sudah. Tari dengan tema keragaman budaya yang terinspirasi dari kesenian jaranan dari Kediri itu tampak memikat juri. Timnya meraih lima besar. Hingga berkesempatan unjuk gigi di hadapan juri menunjukkan cerita seorang wanita yang berjuang menyetarakan kedudukannya dengan laki-laki dengan ilmu kanuragan secara langsung akhir Mei lalu.


Grogi sempat dirasakan para penari. Mengingat, merupakan kali pertama menari di atas panggung disituasi pandemi ini. “Pastilah grogi degdegan. Namun mental anak terbilang kuat. Nah ini yang membuat kami bertahan, dan mampu menguasai panggung,” jelasnya.


Kendati demikian, Hapsari dan anak didiknya mengaku belum puas diri. Dia mengaku sedang mempersiapkan lomba lain. Tentunya tak hanya di kancah nasional, tapi juga internasional. "Kedepannya juga ingin go Internasional. Karena kami ingin, tari tradisi kami ini tak hanya lestari tapi juga dapat dikenal dunia," tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq