Muhammad Majid Ma’ruf yang berstatus anak yatim dan mahasiswa ini mampu menghidupi keluarganya dengan menjadi pembudi daya ikan koi. Dia bercita-cita untuk menembus pasar luar negeri.
FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Sumbergempol, Radar Tulungagung
Memasuki kampung ikan di Desa Bendiljatiwetan, Kecamatan Sumbergempol, tampak kolam-kolam ikan hias yang berada di setiap rumah warga. Tidak terkecuali di kediaman Muhammad Majid Ma’ruf. Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (SATU) ini telah empat tahun jadi pembudi daya ikan koi. Bahkan, budi daya ikan koi ini menjadi sumber penopang ekonomi bagi keluarganya.
Ma’ruf, sapaan akrabnya, harus menjadi tulang punggung keluarga semenjak bapaknya lima tahun lalu meninggal dunia. Dia pun harus memutar otak agar bisa menghidupi keluarganya. Beruntung, sebelum bapaknya meninggal, pemuda 21 tahun ini telah dibekali ilmu merawat ikan hias karena sang bapak juga pembudi daya. Namun setelah bapaknya meninggal, budi daya ikan hias milik keluarga Ma’ruf merosot.
“Melihat kondisi keluarga yang terguncang krisis ekonomi, saya diajak teman untuk menjadi sales di budi daya ikan hiasnya. Berawal dari itu, saya mendapat pengalaman dan modal,” ujar Ma’ruf ketika ditemui di rumahnya kemarin (22/7).
Ketika kali pertama terjun menjadi pembudi daya ikan koi, Ma’ruf masih kelas XI sekolah menengah kejuruan (SMK). Ketika menjadi sales ikan koi, sering ikut kontes hingga ke luar kota dan mendapatkan banyak relasi para penghobi atau pembudi daya ikan. Jadi banyak pelanggan ikannya kini berasal dari luar kota dan luar Pulau Jawa.
Dengan modal dan relasi yang didapat ketika menjadi sales ikan koi. Tahun 2020 Ma’ruf memberanikan diri untuk membuat tiga kolam di dekat rumahnya. Seiring waktu usaha ikan koi ini terus berkembang. Hingga kini dia telah memiliki delapan kolam. Itu karena Ma’ruf sering menjualkan ikan dari teman-temannya dan mendapatkan pesanan yang tidak kecil.
Sebelum pandemi korona hingga akhir Juni 2021, Ma’ruf sering mengirim ikan koi 2-10 pesanan dalam seminggu. Tiap mengirim berisi dua hingga tiga boks ikan koi. “Omzet dalam sebulan bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta,” terang anak pertama dari dua bersaudara ini.
Namun semenjak masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), laki-laki berumur 21 tahun ini hanya mendapatkan dua kali pesanan saja. Bahkan omzetnya turun hingga 75 persen. Selain itu, dia juga terkendala tabung oksigen untuk mengirim ikan-ikan koinya ke luar kota.
“Kini banyak pembudi daya ikan koi, termasuk saya, kesulitan oksigen, Mas. Selain itu, pengiriman juga terhalang PPKM sehingga banyak jalan ditutup,” keluhnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung.
Ma’ruf hanya bisa menunggu keadaan normal sehingga bisa mengirim ikan-ikan koinya. Dia kini hanya melakukan perawatan ikan. Seperti pemberian pakan yang cukup serta vitamin agar terhindar dari cuaca buruk dan pembersihan kolam yang rutin.
Ke depannya setelah pandemi korona mereda, Ma’ruf akan gencarkan lagi promosi penjualan ikan koi lewat media sosial (medsos). Jadi dapat menembus pelanggan ikan koi yang berada di luar negeri. (*)
Editor : Choirurrozaq