Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jatuh Bangun Andi Susilo Berburu Rupiah dari Kerajinan Tangan

Choirurrozaq • Jumat, 30 Juli 2021 | 18:51 WIB

1,5 tahun hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19 berimbas serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat. Andi Susilo buktinya. Sebagai tulang punggung keluarga, dia rela menjual mahar pernikahan untuk menambah kebutuhan sehari-hari. Akibat pekerjaan yang terpaksa ditinggalkan. Membuatnya bergantung dengan usaha kerajinan prada emasnya yang dipelajarinya secara otodidak.


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Karangan, Radar Trenggalek


 


SEJAK kemunculan Covid-19 tahun lalu, kondisi perekonomian keluarga Andi Susilo bernasib sama seperti masyarakat lainnya. Warga Desa Jatiprau, Kecamatan Karangan, itu memiliki tanggung jawab menghidupi keluarga. Anak dan istrinya yang tengah mengandung. Dia memutar otak bagaimana cara agar bisa lepas dari keterkungkungan ekonomi.


Dampak pandemi terasa mendadak. Membuat Andi yang tak lagi punya pekerjaan tetap. Dia terpaksa menjual beberapa benda yang bernilai. Seperti kompresor, gerinda, handphone, hingga mahar pernikahannya. Namun, keluarga Andi masih bertahan hingga pandemi yang sudah berumur 1,5 tahun ini.


Beberapa barang yang dijual Andi mulanya adalah sekadar hobi. Pria kelahiran 1983 itu dulu menyukai kegiatan berbau seni. Menggambar, melukis, hingga membuat kerajinan prada emas. Kemampuan itu didapat tanpa mentor maupun menempuh pendidikan kejuruan. Sebab, Andi cuma lulusan tingkat SMA.


Kreativitas Andi di bidang seni datang secara otodidak. Bermodal pengalaman, secara telaten Andi sering membuat karya lukis wajah dengan menggunakan pensil. Puluhan karya pernah dia buat, tapi masa-masa itu Andi belum menyadari jika bakatnya bisa digunakan untuk mencari pundi-pundi rupiah.


Benturan ekonomi pascapandemi sempat membuat Andi berpaling profesi berdagang musiman. Momen Ramadan tak luput diambilnya untuk mengadu nasib. Ternyata profesi berdagang makanan dan minuman (mamin) berujung merugi. Andi tak lagi berminat melanjutkannya.


Berulang kali gagal, mengingatkan Andi pada bakat berkreativitasnya. Berbeda dengan dulu yang sebatas meneruskan hobi. Kini, pria ramah itu memanfaatkan hobi untuk menambah ekonomi keluarganya. "Mural bak truk-pikap, melukis wajah, hingga membuat prada emas. Apa saja selagi saya mampu, akan saya kerjakan," ungkap suami Chusnul Hidayah itu.


Secara ekonomi, profesi jasa kerajinan yang dilakoni Andi belum berbuah manis karena terbatas jangkauan pasar. Andi sudah mencoba memasarkan jasanya melalui jejaring sosial. Namun, respons netizen masih sebatas bertanya atau belum mengarah pada pemesanan. "Masih beberapa minggu ini saya mulai aktif lagi. Alhamdulillah ada yang pesan prada emas ketika saya promosikan lewat grup WhatsApp," ucapnya. Karya-karya prada emas buatan Andi dibanderol mulai Rp 350-650 ribu.


Perbedaan harga tergantung besar-kecilnya ukuran sampai dengan tingkat kerumitan.


Akibat banyak perkakas yang terpaksa Andi jual, dia terpaksa hanya menggunakan alat-alat seadanya. Misal lem tembak, cutter, pensil, gunting, dan penggaris. Tak cukup itu, proses pembuatan prada emas juga tanpa menggunakan mal. Tapi hanya dengan sketsa berdasar feeling-nya. "Ada teknik berbasis desain, lalu di-print. Tapi menurut saya justru memakan waktu lebih lama. Jadi biasanya saya cuma buat sketsa saja," ujarnya.


Pembuatan prada emas ternyata menyimpan risiko. Andi mengaku membutuhkan tingkat kehati-hatian utamanya saat melukis huruf maupun gambar dengan lem tembak. Hal itu karena ketika membuat kesalahan, prada emas tak bisa diperbaiki. Jadi karya itu terpaksa harus diganti.


Belum lagi kertas prada tak bisa diperlakukan serampangan. Ketika lem tersentuh tangan atau terkena debu, warna kertas prada tak dapat melekat sempurna. Untuk itu, jeda waktu usai proses pengeleman harus langsung masuk proses pewarnaan. "Pembuatan untuk satu karya biasanya dua hari sudah selesai," ungkapnya. (*)

Editor : Choirurrozaq