Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Pembuat Jamu Instan yang Dibanjiri Konsumen saat Pandemi

Choirurrozaq • Rabu, 4 Agustus 2021 | 20:17 WIB

Pandemi korona masih berlangsung hingga kini. Tak ayal, selain berbagai alat kesehatan (alkes), minat masyarakat pada minuman racikan tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh seperti jamu pun meningkat. Dengan kondisi tersebut, jamu instan racikan Sulastri dan Muryani banyak diburu.


 


ZAKI JAZAI, Suruh, Radar Trenggalek


 


Pemerintah pusat telah resmi menetapkan perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 hingga Senin mendatang (9/8). Dengan demikian, aktivitas yang mengakibatkan kerumunan massa tidak diizinkan untuk dilaksanakan. Hal tersebut membuat sebagian besar masyarakat menjalankan aktivitasnya di rumah. Seperti yang dilakukan Sulastri dan Muryani.


Terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di kediamannya yang berada di Desa/Kecamatan Suruh kemarin (3/8). Mereka sedang mencuci dan menghaluskan bumbu dapur kering yang belakangan ini ngetren. Karena dipercaya bisa membuat tubuh kebal dari virus korona, yaitu empon-empon. Terlihat saat itu ada tiga jenis empon-empon yang telah dirajang dan dikeringkan, yaitu kunyit, temulawak, dan kunyit putih. Setelah itu, secara bergantian mereka mencampur empon-empon tersebut yang kemudian dihaluskan dengan mesin halus yang telah disiapkan.


Setelah itu, empon-empon yang telah dihaluskan tersebut disaring hingga benar-benar lembut. Barulah ketika akan melakukan pengemasan, campuran empon-empon yang telah halus tersebut dicampur dengan bubuk sangrai cacing yang telah disiapkan. “Memang terlihat simpel, tapi butuh berhari-hari untuk membuat jamu instan ini. Apalagi dengan cuaca yang mendung dan terus turun hujan seperti kini,” ungkap salah satu peracik jamu, Sulastri.


Dalam proses pembuatan jamu tersebut, mereka mengandalkan sinar matahari. Yakni untuk proses pengeringan. Sebab setelah dikupas dan dicuci bersih, tiga jenis empon-empon tersebut kemudian dipotong tipis-tipis yang selanjutnya direbus. Barulah setelah direbus, empon-empon tersebut dikeringkan sampai kering. Lalu direbus kembali dan diteruskan proses pengeringan kembali. Aktivitas perebusan dan pengeringan tersebut beberapa kali dilakukan. Itu agar pengawet alami tidak berbahaya ketika dikonsumsi. “Jadi jika matahari bersinar terik, proses itu membutuhkan waktu satu minggu sebelum racikan itu digiling. Makanya jika mendung atau hujan, pasti prosesnya bisa lebih lama lagi,” katanya.


Setelah racikan empon-empon digiling, dicampur dengan bubuk dari cacing merah. Proses pembuatan bubuk cacing tersebut bukan perkara mudah. Sebab setelah mendapatkan cacing bersih dari pengepul, mereka secara bergantian langsung menyangrainya dengan api berbahan bakar kayu. Jika menggunakan api dari kompor gas, akan mengurangi khasiatnya. Begitu juga dengan tempat untuk sangrai tersebut, menggunakan wajan dari tanah liat. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Biasanya dimulai sekitar pukul 07.00 dan selesai sekitar pukul 19.00.


Proses ini tidak bisa dilakukan sendiri, minimal dua orang. Ketika cacing dimasukkan dalam wadah, harus terus diaduk agar tidak gosong. Karena itu, jika salah satu dari mereka ada yang pergi ke luar kota, otomatis pembuatan jamu instan tradisional tersebut akan berhenti. Setelah proses itu selesai, barulah mencampur serbuk cacing dan empon-empon yang telah dihaluskan dengan komposisi tertentu. “Setiap kali pemasakan, biasanya saya menyangrai 20 kilogram cacing,” imbuh wanita 42 tahun ini.


Di lain pihak, peracik jamu instan lainnya, Muryani menambahkan, dulunya perpaduan tersebut jamu instan buatannya biasa dipesan orang yang sakit tifus, mag, asam lambung, dan flu. Namun ketika pandemi Covid-19 ini, jamu instan buatannya tersebut banyak dipesan oleh orang-orang dengan kondisi tubuh sedikit tidak fit karena dipercaya bisa menjaga stamina dan meningkatkan imun tubuh agar terhindar dari Covid-19. “Karena itu, kini permintaan jamu instan ini naik dua kali lipat lebih. Biasanya setiap kali membuat, jamu instan ini akan habis sekitar satu bulan. Namun kini paling lama sekitar dua minggu,” imbuhnya.


Ditambahkannya, banyak masyarakat yang menjalani isolasi. Baik isolasi mandiri (isoman) atau yang berada di asrama Covid-19 (ascov), meminta kerabatnya untuk memesan. Sebab menurut mereka, setelah meminum jamu tersebut, proses kesembuhan dari Covid-19 bisa semakin cepat. Yang sebelumnya bergejala, setelah meminum jamu tersebut, gejala yang dialami berangsur hilang. Selain itu, juga ada yang memesankan untuk kerabatnya karena sakit dan ketika di-swab test antigen, hasilnya positif. Karena takut ke rumah sakit dengan kondisi kini, mereka memilih melakukan isoman dengan minum jamu instan tersebut sebagai terapi. “Ini pengakuan dari pelanggan kami. Sebab, harga jamu ini relatif terjangkau, yaitu Rp 10 ribu untuk 3 saset siap minum. Karena itu, jamu ini banyak diminati pelanggan dari luar daerah hingga luar pulau, seperti Sumatra dan Kalimantan,” jelasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq