Memiliki passion olahraga tidak harus menjadi atlet. Gesang Gede Pangestu salah satunya. Seorang pemuda yang sengaja menekuni fisioterapi. Melalui bekal keilmuannya, warga Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, itu pernah menyembuhkan lansia dari kelumpuhan dan beberapa kali mendapat klien dari atlet yang tergabung tim nasional (timnas) sepak bola.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Karangan, Radar Trenggalek
TAK SEDIKIT orang beranggapan fisioterapis hanya berkecimpung dengan dunia pijat-memijat. Menurut Gesang Gede Pangestu, persentase pijat-memijat hanya 20 persen, sementara 80 persen sisanya terfokus pada program pemulihan. Baik itu pemulihan pascaoperasi patah tulang, penyempitan syaraf, pascastroke, atau sebagainya. "Fisioterapis tidak mengandalkan metode seperti pijat alternatif, tapi murni secara medis," ungkapnya.
Gesang mengaku keputusannya menekuni keilmuan fisioterapi karena terinspirasi dari Matias Ibo (fisioterapis pertama di timnas sepak bola Indonesia, Red). Melalui fisioterapi, dirinya bisa membantu orang lain. Jiwa sosial Gesang muncul berlatarbelakang dari orang tuanya yang berprofesi di bidang kesehatan. "Senang bisa membantu orang lain. Bahkan saya pernah terharu (hingga meneteskan air mata, Red) saat melihat progres kesembuhan klien dari tahap ke tahap," ujarnya.
Pemuda kelahiran 1997 itu mengaku mulai menekuni keilmuan fisioterapi sejak 2015-2018 untuk mendapatkan gelar D-3 dan S-1. Kini dia sedang menempuh sekolah profesi fisioterapi. Namun pada 2018 (usai lulus D-3, Red) Gesang mulai merintis karir fisioterapis untuk menyembuhkan orang.
Dia bercerita, klien pertamanya dulu adalah lansia yang mengalami penyempitan syaraf leher. Akibatnya, lansia itu menjadi bunga tidur karena tak dapat menggerakkan bagian tubuhnya kecuali kepala. Diakuinya, seseorang yang mengalami hal itu membutuhkan penanganan medis dengan mengoperasinya. Namun, ada orang yang beranggapan lain bahwa operasi tersebut menyebabkan lumpuh. "Perlu digarisbawahi, kelumpuhan pascaoperasi itu bisa disembuhkan. Yakni dengan memberikan terapi-terapi yang tepat. Kalau tidak, justru menjadi kelumpuhan yang permanen," ujarnya.
Menurut Gesang, melalui fisioterapi ini, pasien pascaoperasi penyempitan syaraf perlu mendapat program rehabilitasi. Tujuannya, agar pasien dapat menggerakkan anggota badannya secara normal lagi. "Terhitung selama lima bulan saya memberikan treatment. Syukur beliau bisa sembuh dari kelumpuhan. Jika di awal beliau cuma bisa memanggil anggota keluarga untuk mengambil air minum, kini beliau sudah mampu berjalan," ujarnya.
Pemicu penyempitan syaraf, kata pemuda ramah ini, cenderung kompleks. Bisa akibat salah mengangkat beban berat saat muda maupun menyimpan dompet tebal di saku belakang. Jadi ketika dewasa, efeknya baru terasa. Menurutnya, itu tetap dapat diantisipasi. Salah satunya tidak boleh mengangkat beban dengan membungkuk. Sebab, syaraf maupun otot di bagian itu tipis. Akan lebih aman dengan cara jongkok, baru mengangkat bebannya. Itu karena otot paha maupun kaki lebih besar. "Adapun syaraf di bagian tulang punggung itu begitu banyak. Jadi akan berbahaya ketika capek lalu minta dipijat menggunakan kaki," jelasnya.
Berkat keilmuan fisioterapinya, Gesang sering dipanggil untuk memberikan treatment kepada para pemain timnas sepak bola yang cedera. Seperti Dimas Drajad dan Muchlis Hadi Ning Syaifulloh. Sementara treatment yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, tak lain ketika pemain mengalami cedera lutut. "Intinya, pascaoperasi bagian yang cedera perlu pemulihan agar dapat berfungsi seperti sedia kala. Misal, menggerakkan lutut dengan tepat dan bertahap," ucap anak dari pasangan Purwanto dan Titik Sulistiani itu.
Selama menekuni karir sebagai fisioterapis dan menempuh sekolah profesinya, Gesang mengaku banyak pasien yang berharap bisa sembuh dalam waktu yang relatif singkat. Padahal, cepat atau lambatnya itu tergantung cedera yang diderita. Untuk itu, semangat, ketelatenan, dan kesabaran pasien begitu berpengaruh agar mereka cepat sembuh. "Dengan terus semangat dan termotivasi, lumpuh pascaoperasi pun bisa sembuh," tuturnya.
Gesang berharap agar masyarakat lebih memahami bahwa fisioterapi bukan sekadar pijat alternatif. Hal itu agar treatment yang diberikan bisa lebih tepat dan sesuai keilmuan kesehatan. "Saya berharap bisa mengenalkan fisioterapi di kabupaten kelahiran saya agar masyarakat tak sampai salah. Ketika kaki patah, datang ke pijat alternatif bukan solusi yang tepat," ucapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq