Sedikit orang memiliki keterampilan merajut demi mengasah kreativitas dengan nilai jual tinggi. Temasuk Rosdiana Indah Lestari. Dia menekuni kerajinan tersebut berawal ketika di pondok pesantren (ponpes).
ZULFIKARY MAULUDIN HIDAYAT, Sendang, Radar Tulungagung
Tampak aneka benang wol dan benang poli memenuhi meja ruang tamu berukuran 4 x 2 meter itu. Tak jauh dari sana, terlihat aneka tas, dompet, sweater, peci, hingga sandal bayi buatannya berjejer di kursi tamu. “Maaf ya, agak berantakan. Masih merajut dompet untuk pesanan teman soalnya,” ucap Rosdiana Indah Lestari, kemarin (11/8).
Diana, nama yang kerap disapa oleh keluarganya itu menceritakan awal mula dirinya menekuni seni rajut. Kala itu, saat masih mengenyam pendidikan di salah satu ponpes di Kota Kediri, dia mengisi waktu luang setelah mengaji dengan belajar seni rajut dari temannya. “Saat itu masih coba-coba saja bikin tas. Karena saya dari dulu suka membuat karya seni,” terang warga Desa Dono, Kecamatan Sendang.
Dia menjelaskan, karya pertamanya dibuat pada awal 2017 itu ditanggapi dengan baik oleh teman-temannya. Semenjak itu, Diana mulai menekuni seni rajut dengan melihat referensi melalui konten video di YouTube dan inspirasi ide di sejumlah laman web. “Setelah banyak orang yang minat, saya mulai giat untuk memulai usaha ini,” ujarnya.
Setelah mendapat respon positif dari teman –teman dan kerabatnya, Diana menekuni usaha rajut setelah menikah. Yakni pada pertengahan tahun yang sama. Setelah itu, dirinya mulai membuat aneka aksesori bayi sebagai hadiah untuk temannya. Adapun dompet anak –anak untuk dibagikan ke tetangganya. “Dari hasil rajutan itu saya abadikan dan unggah ke media sosial sebagai katalog,” tuturnya.
Ibu rumah tangga yang dikaruniai seorang putra itu menambahkan, hanya merajut barang jika ada pesanan saja. Lantaran modal untuk benang, kertas busa, serta pernak –pernik aksesori terbilang mahal. Sehingga dia hanya melakukan strategi pemasaran tanpa menyediakan stok lebih dulu. “Yang jadi masalah nanti jika barangnya distok dulu, takutnya tidak sesuai dengan selera pasar. Mengingat keinginan orang beda –beda,” terangnya.
Pemilik usaha bernama Diana Handicraft itu menguraikan, jenis benang yang digunakan untuk setiap barang tidak sama. Selain benang wol dan benang poli, merajut juga menggunakan benang jenis katun, sutera, linen, akrilik, dan nilon. Dengan ketebalan mulai 3,25 milimeter (mm) sampai 3,75 mm itu, Diana mahir membuat aneka tas, dompet, sandal, sweater, peci, topi rajut bayi, hingga sandal bayi. “Tergantung barang yang dibuat. Contoh untuk tas ransel, butuh 600 gram benang rajut. Sedangkan dompet wanita yang saya rajut sekarang (kemarin, Red) butuh 400 gram benang,” jelasnya sembari merajut.
Terkait bahan –bahan yang dibutuhkan, kata Diana, tidak hanya membuat rajutan saja. Melainkan membuat lapisan dalam.Terutama tas dan dompet. Yakni membutuhkan kain lapisan beserta busa ati sebagai penopang barang tersebut. “Kedua bahan itu dijahit, lalu disterika. Tujuannya agar menyatu sebelum bagian luarnya diberi rajutan,” katanya.
Dia menerangkan, harga jual yang ditetapkan bervariasi. Lantaran tingkat kerumitan saat merajut juga berbeda. Untuk dompet wanita ukuran 10 x 19 sentimeter (cm), Diana menetapkan harga Rp 80 ribu. Sedangkan tas ransel diberikan harga Rp. 300 ribu. Adapun aksesori bayi seharga Rp 35 ribu sampai Rp. 50 ribu. “Tergantung kerumitan juga. Semakin rumit model rajutannya juga semakin mahal,” bebernya.
Sementara terkait jumlah pembeli, dalam satu bulan sekitar empat sampai lima orang memesan barang rajutannya. Itu dengan jumlah pesanan bervariatif. Yakni satu sampai dua jenis barang. Dengan lokasi tujuan pengiriman ada yang sampai luar Jawa Timur. “Bulan lalu ada yang pesan dari Jakarta,” katanya.
Perempuan berhijab itu menambahkan, modal untuk benang –benang itu seharga Rp 12 ribu sampai Rp 19 ribu untuk 100 gram. Sementara kain lapis dan busa ati dibutuhkan Rp 13 ribu untuk satu meter. Selain itu, pernak pernik seperti monte dan hiasan aksesori wanita satu lusin seharga Rp 15 ribu. “Beda lagi jenis nilon seharga Rp. 37 ribu. Lantaran jenis benang yang kaku dan awet,” ujarnya
Sehingga terkait omzet pendapatan, Diana menjelaskan jika setiap barang dapat untung 100 persen dari jumlah modal. Lantaran dia menghitung jenis kerumitan dan krativitas yang dijual kepada pembeli. “Mengingat kebutuhan bahan untuk barang yang dirajut juga tidak sama. Maka jika ditotal butuh Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu.” tuturnya.
Dia menandaskan, strategi pemasaran untuk saat ini masih menggunakan media sosial. Lantaran masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya tak banyak yang minat karya rajutan. Sehingga untuk sementara mayoritas pembeli berasal dari teman –teman dan kerabatnya. “Setelah ini, rencananya saya ingin merambah bisnis merajut semakin luas dengan memulai membuat konten di YouTube,” ujarnya. (*)
Editor : Choirurrozaq