Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Melihat Kemegahan Masjid Al-Fattah di Tulungagung

Choirurrozaq • Jumat, 20 Agustus 2021 | 20:45 WIB




Masjid Al-Fattah di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, yang baru saja direnovasi memiliki kain kiswah yang benangnya dari emas. Masjid yang baru saja direnovasi ini berhasil menjadi ikon baru dari Tulungagung karena memiliki arsitek modern.


 


FAJAR RAHMAD ALI WARDANA, Kota, Radar Tulungagung


 


Bila melewati Jalan Mayjend Suprapto, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, disambut dengan menara setinggi 53 meter yang ternyata bagian dari Masjid Al-Fattah. Masjid ini baru saja direnovasi sehingga terlihat dengan tampilan baru dan modern. Menariknya, terdapat kain kiswah di dalamnya.


“Sejak dibangun tahun 1952, Masjid Al-Fattah ini telah direnovasi sebanyak dua kali. Pertama tahun 1985 dan yang terakhir pada tahun 2019 lalu hingga bisa terlihat seperti ini,” ujar takmir masjid, Ahmad Djadi kemarin (18/8).


Dia menceritakan bila dilakukannya renovasi di masjid seluar 1.500 meter persegi ini agar dapat memberikan kenyamanan para jamaah masjid. Selain itu, juga untuk menyesuaikan kebutuhan zaman kini sehingga tidak terlihat seperti bangunan kuno.


Renovasi terakhir 2019 di antaranya  plafon yang dilengkapi lampu bertuliskan asmaul husna. Selain itu, terdapat kain kiswah dengan panjang 6,6 x 3,5 meter. Berat total sekitar seluruh kain kiswah ini 100 kilogram (kg). Dari berat tersebut di antaranya 40 kg benang emas yang diletakkan pada bagian depan tempat salat imam. Sehingga kain kiswah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah untuk menjalankan salat di Masjid Al-Fattah. Apalagi masjid di Indonesia yang memiliki kain kiswah begitu langka.


Bahkan, kain kiswah telah menjadi ikon baru dari Masjid Al-Fattah, tapi tetap mengutamakan kekhusyukan saat salat. Hampir setiap jamaah yang mampir untuk salat tertarik melakukan swafoto di depan kain kiswah tersebut.


“Bersyukur bila kain kiswah yang ada di Masjid Al-Fattah ini menjadi daya tari jamaah untuk datang ke masjid. Dilakukan renovasi tidak apa-apa, yang penting ketakwaan dalam beribadah itu yang utama,” terangnya.


Selain kain kiswah, terdapat hal yang dapat dirasakan jamaah agar beribadah di masjid lebih nyaman. Yaitu dengan adanya air conditioner (AC) sehingga jamaah tidak merasa kepanasan berada di dalam masjid. Hal itu termasuk perubahan yang signifikan karena sebelumnya hanya ada kipas angin.


Dia mengungkapkan, Masjid Al-Fattah ini awalnya merupakan hasil wakaf dari pengusaha bernama H. Sarkam Ashiri. Dia mengamanahkan agar tanahnya dapat dibangun masjid untuk ibadah orang islam di Kelurahan Kepatihan. Jadi pada 1952 itu dimulainya proses pembangunan yang kini menjadi salah satu masjid terbesar di Tulungagung.


Namun ketika tahun 1953, Gunung Kelud di Kabupaten Kediri meletus sehingga terjadi hujan debu sampai di Tulungagung. Adanya peristiwa itu, debu hasil hujan erupsi Gunung Kelud dimanfaatkan untuk pembangunan masjid karena jumlahnya cukup banyak. Masjid ini pernah dijuluki dengan Masjid Putih dan Masjid Jawa Kuno.


Dia bersyukur kegiatan agama di masjid itu dapat terus bertahan. Yakni dengan dana kolektif dari takmir dan warga setempat dapat melakukan dua kali renovasi untuk kemajuan masjid dan jamaahnya.


Sementara itu, dalam melakukan salat jamaah di Masjid Al-Fattah ini, sebagai takmir selektif dalam memilih imam salat dan muazin. Sebelum menjadi imam di masjid ini, seorang imam harus memenuhi syarat-syarat wajib imam. Sehingga dapat memimpin jamaahnya untuk melakukan salat dengan khusyuk dan tawadu.


Untuk muazin, tugasnya tidak sekadar mengumandangkan azan saja. Namun juga ikamah sehingga warga sekitar dapat terpanggil untuk melakukan salat di waktu yang awal. Hal itu yang diperhatikan oleh takmir masjid demi kenyamanan para jamaah. (*)

Editor : Choirurrozaq
#tulungagung