Berliku-liku perjuangan Randy Christianto menekuni dunia kuliner. Dari cemooh teman dan tetangga ketika sekolah jurusan tata boga, hingga dirumahkan dari pekerjaan chef hotel karena pandemi. Di balik itu semua, pemuda tersebut memiliki segudang prestasi dan kemandirian berwirausaha.
ZULFIKARY MAULUDIN HIDAYAT, Ngantru, Radar Tulungagung
Tidak sulit menemukan kediaman Randy Christianto. Pria 24 tahun ini tinggal di pinggir jalan raya Tulungagung–Kediri, tepatnya di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Ngantru.
Saat ditemui kemarin (25/8), Randy, sapaan akrabnya itu, menceritakan kisah mula dirinya lekas menekuni usaha bidang kuliner.
Kala itu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Randy terinspirasi oleh kemampuan memasak yang diperlihatkan kedua orang tuanya. Semenjak itulah, dia memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan di jurusan tata boga. “Akhirnya pada 2012 saya masuk sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 02 Boyolangu. Itu jurusan tata boga,” terangnya.
Ketika memasuki bangku SMK itu, Randy mengaku sempat dicemooh oleh teman–teman dan tetangganya. Dia diejek karena seorang laki–laki menekuni bidang memasak dan masuk jurusan tata boga. “Dulu sempat diejek. Katanya nggak cocok. Mereka (orang yang mengejek Randy, Red) bilang, ‘cowok cupu’,” ungkapnya.
Ejekan dan cemooh itulah yang membuat anak sulung dari kedua bersaudara ini dianggap sebagai kritik yang membangun. Sehingga, pada tahun kedua masa SMK, dirinya mengikuti kompetisi lomba kompetensi siswa (LKS) tingkat provinsi Jawa Timur (Jatim) pada 2014, dan ajang kompetisi memasak yang diselenggarakan oleh salah satu produk makanan ternama di Surabaya pada 2015. Dari kedua ajang tersebut, Randy memperoleh juara kedua.
Kemudian, pada 2016 Randy melanjutkan bangku perkuliahan tingkat diploma satu (D1) di Tristar Culinary Institute Kota Surabaya.
Tak berhenti di situ, pada masa kuliah, pria berkulit sawo matang itu mengikuti sejumlah perlombaan di Kota Pahlawan. Yakni Surabaya Culinary Challenge kategori Eastfood Indonesia Dessert pada 2017. Selain itu, dirinya juga mengikuti perlombaan Musyawarah Nasional (MUNAS) Perkumpulan Chef Profesional Indonesia (PCPI) kategori jajanan pasar pada 2018. Tak tanggung-tanggung, Randy memperoleh juara pertama dan mendapat medali emas.
Saat ditanya kemampuan memasak, Randy mengaku mampu memasak jenis makanan tradisional, makanan barat (western), serta makanan penutup (dessert). “Kelemahan saya ada di chinese food (makanan khas negara Tiongkok, Red). Tapi saya tidak berhenti berusaha untuk membuat makanan tersebut,” jelasnya.
Setelah lulus D1, Randy bekerja menjadi chef di salah satu hotel di Surabaya. Namun, saat masa pandemi Covid-19, dirinya dirumahkan sampai batas waktu yang tidak diperkirakan. Sehingga, alumnus SMP Negeri 01 Ngantru itu mengundurkan diri dan mulai membuka peluang usaha di Kota Marmer. “Februari kemarin launching (peresmian, Red) usaha angkringan,” urainya.
Angrkingan yang berlokasi di samping rumahnya itu menyediakan makanan dan minuman khas racikannya. Yakni nasi pecel dan ayam bakar. Selain itu, minuman yang dia jual juga berbeda dari biasanya. Yaitu susu sapi dan kopi didatangkan langsung dari Desa Sendang, serta teh dari bunga telang. “Bunga telang saya tanam sendiri di pekarangan rumah,” ujarnya.
Saat ditanya antusiasme warga terhadap usahanya, Randy mengatakan, bahwa pengunjung menyukai produk buatannya. Alhasil, dia mendapatkan keuntungan 50 persen dari omzet penjualannya. “Fokus pemasaran saya ada di rumah dan promosi di media sosial (medsos),” tandasnya.
Dia menegaskan, bidang kuliner baginya merupakan salah satu jenis usaha yang menyenangkan. Sebab dirinya dapat menuangkan ide kreatif menjadi sebuah produk yang dapat dikonsumsi masyarakat. Sehingga, dirinya berusaha menepis stigma negatif masyarakat melalui prestasi dan capaiannya selama ini. (*)
Editor : Choirurrozaq