Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Warga Pucanglaban Temukan Kucing Hutan Jawa

Choirurrozaq • Rabu, 1 September 2021 | 17:21 WIB




Kucing hutan Jawa masuk ke pemukiman warga di Desa Sumberdadap, Kecamatan Pucanglaban. Satu di antaranya terperangkap di perangkap buatan milik Evana Nisaul Ammar, Minggu (29/8) lalu. Mengetahui status hewan tersebut dilindungi, Evana dan keluarga menyerahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Senin (30/8) untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya.



SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Pucanglaban, Radar Tulungagung



Berada di desa pinggiran, tempat tinggal Evana Nisaul Ammar termasuk ramai dan padat pemukiman. Tak pelak, membuat Evana kaget ketika perangkap yang dibuatnya dengan umpan sayap ayam mentah itu menangkap kucing hutan Jawa.



Sebelum terperangkap, kucing tersebut sempat terdeteksi oleh warga pada tiga bulan lalu. Saat itu, ditandai dengan banyaknya anak ayam dan kelinci milik warga hilang. Bahkan sebut Evana, 20 kelinci miliknya juga jadi sasaran.



"Kami mengiranya bukan kucing itu. Karena tiga bulan itu, kami sering dengar suara “hosss” gitu kayak suara ular lagi nyembur. Jadi menduganya ke arah ular kalau nggak gitu tikus atau garangan," jelas Evana pada Koran ini.



Namun beberapa hari terakhir kemarin, ada warga melihat aksi hewan bercorak totol warna hitam dan kuning tersebut. Bahkan orang tua, Ervana memergoki langsung hewan diduga serupa memangsa ayam ternaknya, Jumat (27/8) pagi. Orang tua Ervana yang resah, sempat berusaha menangkapnya. Namun gagal.



"Coraknya totol warna hitam dan kuning. Saya kira itu musang rase. Hingga kemudian keesokannya Sabtu (28/8) kami memutuskan buat perangkap," jelasnya.



Ervana mengaku, sempat mengira hewan tersebut kucing biasa. Tapi tingkahlakunya buas dan liar. Lantas berusaha mencari tahu, dengan mem-posting-nya di media sosial (medsos). Beberapa temannya merespon bahwa dan menyebut harus melapor ke BKSDA. Karena hewan tersebut merupakan hewan dilindungi.



"Saya dibantu teman, melapor ke BKSDA dan direspon BKSDA Kediri. Hari ini (Senin, 30/8) kami serahkan melalui perwakilan BKSDA dari Lembaga Edukasi Cinta Satwa dan Konservasi (Cakra)," jelasnya.



"Karena posting-anku itu juga, saya sempat dihubungi orang untuk dibeli. Karena takut, posting-an langsung saya hapus dan dia (yang beli) saya blok," imbuhnya.



Sementara itu, Ketua Cakra, Yuga Hermawan mengaku, dihubungi BKSDA Kediri untuk menjemput kucing hutan ini. Ini karena, kucing tersebut termasuk hewan yang dilindungi. Itu terlampir di PP No. 7 Tahun 1999 dan ketentuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, kucing hutan jawa ditetapkan sebagai satwa liar yang dilindungi.



"Kemarin (30/8) diserahkan oleh mbak Evana dan keluarga ke kami. Dan hari ini (Selasa, 31/8) kami teruskan dengan menyerahkan ke BKSDA Kediri," jelasnya.



Terang Yuga, Evana merupakan orang kedua asal Tulungagung yang menyerahkan kucing hutan Jawa tersebut ke BKSDA untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya. Menurutnya, kucing hutan Jawa masih banyak ditemukan, terutama di wilayah gunung, dan perkebunan.



"Sebelumnya dari Boyolangu. Itupun sempat akan dijual, setelah diberi edukasi akhirnya mereka membatalkan dan secara sukarela menyerahkan BKSDA," tuturnya.



Secara fisik, kucing hutan Jawa hampir sama dengan kucing kampung, tetapi ukuran tubuhnya sedikit lebih besar. Telinganyapun lebih pendek. Sedangkan warna bulunya didominasai warna abu-abu gelap dengan corak tak beraturan.



"Mungkin kucing ini tengah diajari berburu. Itu melihat banyaknya kasus hewan ternak yang hilang dan mati. Diduga masih ada yang lain," tambahnya.



Lantas setelah ini, pihaknya akan terjun memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar. Untuk tidak melakukan pemburuan atau bahkan praktik jual beli terhadap kucing hutan Jawa untuk melindunginya. Terlebih statusnya hingga kini nyaris punah.



"Sebenarnya dibiarkan saja, mereka akan kembali ke asalnya lagi. Bahkan karena kucing yang juga disebut macan rembah ini lebih banyak ditemukan di perkebunan warga, ini justru menguntungkan. Karena sifatnya liar, agresif membantu mengusir hama tikus," tandasnya. (*)


Editor : Choirurrozaq