Fiyang Anjas Tamara memilih memproduksi madu dari lebah Australia. Sebab, memiliki peluang yang menjanjikan. Alhasil, wanita 26 tahun itu bisa menjual produknya sampai luar negeri.
Tidak mudah menemukan lahan yang layak untuk produksi madu murni di Desa Mojoagung, Kecamatan Ngantru. Lahan itu dipilih Fiyang Anjas Tamara untuk melakukan budi daya lebah unggul asal Australia selama satu bulan ke depan. Jenis lebah tersebut juga biasa disebut lebah apis mellifera.
Sembari mengecek kondisi sarang lebah apis mellifera itu, Tamara menceritakan awal mula usaha lebah yang dikelolanya menjadi besar. Kala itu, dirinya mendaftarkan produk madu murni sebagai salah satu bagian usaha menengah kecil mikro (UMKM) di Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM). Tak disangka, dia bersama empat kelompok UMKM asal Tulungagung memperoleh dana sebesar Rp 15 juta.
“Awalnya usaha milik suami saya. Dari modal tersebut, saya coba untuk memperluas budi daya banyak jenis lebah,” lanjut ibu muda yang dikaruniai satu anak tersebut.
Perempuan asal Desa Ngujang tersebut melanjutkan, budi daya lebah madu dimulai pada 2011. Yakni menggunakan koloni lebah lokal, lebah klanceng. Seiring waktu berjalan, dirinya berinisiatif menjual mutu madu dari produksi lebah yang berkualitas. “Untuk memelihara asupan makan lebah, harus memperhatikan kondisi iklim,” katanya.
Dia menjelaskan, penjualan madu murni miliknya pernah dipasarkan sampai luar negeri. Antara lain Singapura dan Taiwan. Omzet pendapatan yang diperoleh dalam satu bulan bisa mencapai Rp 30 juta. “Saat ini menjaga keseimbangan antara lebah mati dan yang lahir. Jadi pengawasan air gula dan madu yang dihasilkan dapat terjaga dengan baik,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian Andika Putra