KABUPATEN BLITAR - Para pelaku usaha dituntut kreatif. Begitu juga dengan Faridatul Lukmana. Warga Desa Slorok, Kecamatan Garum itu punya ide usaha setelah nonton drama korea.
Farida sempat bingung ketika menerima order buket berisi alat kontrasepsi. Awalnya, dia merasa terkena prank dari temannya. Namun, setelah beberapa kali balas membalas pesan singkat, dia yakin bahwa permintaan tersebut bukan sekadar gurauan. “Mungkin maksudnya biar beda. Tapi ada benarnya juga,” ungkapnya.
Lambat laun, pesanan unik kembali diperoleh. Selain alat tes kehamilan, ada juga vitamin, bahkan sayur segar sebagai isi buket. Meski tergolong nyeleneh bagi sebagian orang, itu bisa menjadi pilihan isian buket. Tidak selalu harus bunga ataupun cokelat.
Farida akhirnya menyadari bahwa fungsi buket kini sudah semakin beragam. Tidak hanya sebagai sarana mengekspresikan perasaan, namun juga harus memberikan manfaat. Segmentasinya juga sudah berubah. Tidak hanya diberikan saat momen pesta. Namun juga untuk kesempatan lain.
Jika dilihat dari bahan yang digunakan, buket sebenarnya bukan barang mahal. Material seperti kain spunbond, pita, tali, dan komponen bahan pembuatan lainnya bisa didapatkan dengan harga relatif terjangkau. Yang membuat buket mahal adalah isinya. Misalnya isi buket tersebut adalah emas atau uang pecahan Rp 100 ribuan dengan jumlah yang banyak. Secara otomatis harga barang ini bisa menguras isi dompet. (hai/ c1/wen)
Editor : Anggi Septian Andika Putra