TULUNGAGUNG - Menjalankan budi daya ikan koi memang butuh konsistensi tinggi agar tidak cepat gulung tikar. Hal itu termasuk dilakukan Marsudi, warga Desa Ngubalan, Kecamatan Kalidawir, yang sukses budi daya ikan tersebut hingga dijadikan jujukan pencinta koi tanah air.
Belasan kolam untuk budi daya ikan koi dimiliki oleh pemuda asal Desa Ngubalan, Kecamatan Kalidawir ini. Dia bernama Marsudi. Menjalani profesi sebagai petani ikan koi sejak 2019 lalu atau sebelum pandemi Korona.
Bukan karena hobi budi daya ikan koi, melainkan karena mengikuti jejak sang kakak. Dia sebelumnya pernah menjalankan usaha furnitur yang merupakan hobinya, tetapi kewalahan terhadap tingginya pesanan. Hingga akhirnya, Marsudi lebih memilih banting setir untuk mengelola ikan.
“Omzet saya sehari bisa sampai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, Mas. Pembelian terbanyak awal Korona berjalan setahun,” ujar Marsudi, kemarin (7/2).
Saat memasuki tahun 2022 lalu, penjualan ikan koi milik Marsudi menurun karena banyak faktor yang memengaruhi. Di antaranya, stok yang terlalu banyak sedangkan minat pembeli berkurang. Ikan yang dikeluarkan pun berkualitas buruk, apalagi saat panen hasilnya tidak memuaskan. Omzetnya pada 2022 menurun drastis daripada saat awal pandemi.
Menurut pria 25 tahun ini, penjualannya menurun 50 persen, tetapi tidak sampai merugi. Hal itu karena dia hanya mengorbankan ikan dengan kualitas di bawah standar. Bahkan, pada tahun 2022, sebagian temannya ada yang gulung tikar.
Faktor lain yang membuat harga ikan koi jatuh karena banyaknya pembudi daya ikan konsumsi yang beralih ke ikan hias ini. Padahal, mereka tidak ada pengalaman budi daya ikan koi. Karena itu, ada peternak nakal yang menjual ikan di bawah standar. Marsudi juga sempat merasakan perputaran uang dalam usaha ini cukup sulit. Hal itu membuat daya jual dan harga ikan koi menurun daripada biasanya.
“Alhamdulillah, saya bisa bertahan sampai sekarang karena berusaha konsisten. Tetap memelihara dan jualan, tapi harganya berbeda. Dulu per ekor bisa Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, sekarang Rp 50 ribu,” ungkapnya.
Untungnya, Marsudi melakukan pembibitan, pembesaran, hingga menjualnya sendiri sehingga tidak terlalu merugi. Berbeda dengan pembudi daya yang membeli ikan koi bibitan, itu terasa meruginya.
Dia menuturkan, pembeli ikan koinya berasal dari beberapa daerah di tanah air. Terjauh, orang Makasar dan Kalimantan. Bahkan, ada peminat dari luar negeri seperti dari Thailand, Eropa, dan Arab, tetapi belum terwujud karena terkendala di ekspedisi. Padahal, para peminat tersebut sudah cocok dengan harga yang ditawarkannya.
Hal itu karena persyaratan ekspor Indonesia terlalu rumit sehingga transaksi dengan peminat ikan koi luar negeri gagal. Bahkan, hingga kini dia masih bingung tentang bagaimana ekspedisi yang bisa memenuhi syarat. Maka dari itu, dia lebih sering mengirim ke dalam negeri, tepatnya di Makasar yang sering berlangganan kepadanya. Selain itu, ada beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang juga berlangganan kepadanya.
“Beberapa waktu lalu, ketika bertemu dengan pembudi daya ikan koi Blitar, ada yang mengatakan bahwa ekspor ke luar negeri sudah bisa. Apalagi jika mengirim ke Malaysia hingga Eropa sudah lancar, karena itu dia ingin mencobanya lagi,” tandasnya.
Dia menceritakan, ratusan hingga ribuan ekor ikan koi dikirim ke Makasar karena beberapa orang selalu langganan. Apalagi, dia memiliki ekspedisi tersendiri yang melayani pengiriman barang antarpulau di tanah air.
Bagaimana pembeli luar pulau dan luar negeri mengetahui ikan koi Marsudi? Dia menjawab bahwa selama ini ia melakukan pemasaran lewat media sosial (medsos) seperti Instagram dan Facebook. Terbaru, dia menjajal YouTube untuk menjaring lebih luar pelanggan.
“Sekarang seminggu cuma mengirim tiga sampai lima kiriman ikan koi. Menurun drastis daripada awal Korona. Sekarang omzet saya cuma bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 3 juta tiap bulan,” terangnya.
Menariknya, dia sering menyediakan ikan koi berstandar kontes atau show. Beberapa ikan kontes dari budi daya milik Marsudi menjadi juara. Namun, dia tidak memberikan harga khusus. Itu tergantung kesepakatan dengan pembeli dan sesuai kualitas ikannya. “Ya alhamdulillah, mendengar kabar pembeli menjuari kontes dari membeli ikan koi saya itu sudah senang, berarti saya berhasil mem-breeding,” pungkasnya.(*/c1/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra