TRENGGALEK - Sekitar pukul 15.30 kemarin (8/2), Sumani terlihat baru memarkirkan sepedanya di rumahnya yang berada di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek. Benar saja, di tengah padatnya kendaraan bermotor di wilayah Trenggalek, Sumani masih bertahan dengan menjadi tukang servis payung keliling. Dia berkeliling dengan sepedanya seraya menawarkan jasa memperbaiki payung.
Untung saja, ketika sore hari saat Koran ini bertemu dengannya, dia sudah memperoleh lima pelanggan setelah berkeliling sejak pukul 07.30. Dengan begitu, rezeki tersebut akan digunakan sebagai modal untuk aktivitas esok harinya. "Alhamdulillah, hari ini (kemarin-red) dapat Rp 60 ribu dari memperbaiki lima payung, semoga besok dapat lagi," katanya.
Ya, ucapan syukur tersebut selalu diucapkan Sumani ketika ada pelanggan yang datang. Sebab, penghasilan yang ada setiap harinya tidak menentu. Bahkan pada kondisi tertentu, kendati telah berkeliling puluhan kilometer, tidak ada pelanggan yang menghampiri. Kendati demikian, hal tersebut tidak membuatnya pantang menyerah, karena hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghidupi keluarga. "Jadi tidak menentu, kadang dapat Rp 15 ribu, Rp 40 ribu, bahkan tidak sama sekali. Namun, ini tetap saya tekuni karena tidak punya sawah," katanya.
Hal itulah yang selalu dirasakannya selama 32 tahun berkeliling menjadi tukang servis payung. Untuk rutenya, biasanya dari rumah ke timur hingga ke Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan; Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari; hingga ke Desa Baruharjo, Kecamatan Durenan. Setiap harinya, dia setidaknya menempuh jarak sekitar 30 kilometer. Lalu untuk musim hujan seperti saat ini, menjadi berkah tersendiri bagi dirinya. Sebab, banyak orang mau servis payung. Jika kemarau pastinya sepi, karena tidak sedikit orang yang hanya menaruh payung begitu saja hingga rusak bahkan dibuang.
Dari situ, ketika musim kemarau berkepanjangan tiba, jumlah pelanggannya sering tidak ada. Akibatnya, dia terpaksa mengayuh sepeda lebih jauh dan pulang lebih sore. Itu dilakukannya saat kemarau. Selain menawarkan servis payung, dia juga menawarkan jasa untuk mengukir nama pada sendok atau piring.
Namun, musim hujan bisa dikatakan sebagai masa panennya. Sebab, dalam satu harinya dia bisa memperbaiki hingga 15 payung. Biaya perbaikan satu payung biasanya diberi harga sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu tergantung kerusakannya. Kendati harga tersebut terbilang miring, tetapi masih saja ada yang nawar. Jika tidak terlalu rendah, dia langsung menyetujuinya.
Kendati demikian, tidak sedikit pelanggan yang memberikan bonus kepada Sumani. Bonus tersebut seperti ada yang memberi payung bekas yang tidak dipakai, makanan, roti, dan minuman ketika proses memperbaiki payung. Dalam menemui pelanggan, dia hanya mengandalkan insting karena tidak bermodal alat komunikasi semisal handphone. Dari situ, ketika bertemu calon pelanggan di suatu tempat tetapi tidak membawa payung rusak, mereka mengambil kesepakatan untuk datang ke lokasi yang telah disepakati.
Setiap kali beraktivitas, Sumani hanya bermodalkan sepeda dan tas berisi peralatan servis payung seperti tang dan kawat, serta onderdil payung bekas yang mungkin diperlukan. Tidak lupa, sehelai jas hujan juga selalu ditentangnya sebagai bekal jika saat itu turun hujan. Teknik perbaikan payung dilakukan secara otodidak, dengan memperbaiki payungnya sendiri yang rusak. Itu terjadi lantaran baginya tidak ada payung yang tidak bisa diperbaiki asalkan kain tidak sobek.
Sementara itu, onderdil guna memperbaiki payung tersebut, didapatkannya dari pengepul barang bekas. Sebab, dalam hal ini tidak ada toko yang menjual onderdil payung. Dari situ, jika berkunjung ke tempat pengepul barang bekas dan menemukan payung, dia langsung membelinya. "Selagi masih bisa, saya akan terus menekuni pekerjaan ini dan keliling menggunakan sepeda. Sebab, seperti trauma jika menggunakan sepeda motor, karena dua tahun lalu sempat terjatuh dan harus opname sekitar satu minggu," jelas kakek 75 tahun ini.(*/c1/rka) Editor : Intan Puspitasari