Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jual Beli Uang Kuno ala Andi Septianto, Untungnya Berlipat Ganda

Aburizal Sulthon Hakim • Selasa, 14 Februari 2023 | 18:56 WIB

Tulungagung - Andi Septianto perlu memiliki kartu tanda anggota (KTA) untuk melakukan transaksi jual beli uang kuno, agar aman dan terhindar penipuan. Lantaran uang dimilikinya sejak era Belanda, Jepang, hingga setelah kemerdekaan masih bernilai tinggi. Usai melakukan transaksi penjualan uang kuno kepada pembelinya ke perbatasan Kediri, pria bernama Andi Septianto, warga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, menyempatkan bertemu wartawan Radar Tulungagung. Dia memamerkan koleksi uang kuno dimilikinya.

Ternyata Andi, sapaan akrabnya, selain kolektor uang kuno juga jual beli, sehingga mendatangkan keuntungan. Kegiatan ini menjadi pekerjaan utamanya, sejak ternak sapinya dijual karena desanya pernah zona merah virus penyakit mulut dan kuku (PMK). “Saya empat tahun menjalani bisnis ini, atau sekitar tahun 2019. Sebelumnya saya kerja pabrik di Batam tahun 2018 pulang, setelah itu berangkat ke Batam lagi beberapa bulan. Kembali lagi ke Tulungagung hingga menjalani bisnis ini,” ujar Andi ditemui di warung kopi, kemarin (13/2).

Dia melanjutkan, ketika di rumah melihat di Facebook lelang uang kuno hingga ikut karena tertarik barang antik. Setelah mengikuti lelang beberapa kali, ternyata Andi menang dan mendapatkan banyak uang langka. Justru itu membuat istrinya marah karena uang rumah tangga tersedot di kegiatan lelang uang kuno tersebut.

Dari hal itu, Andi harus memutar otak agar hobi koleksi uang kuno dengan ikut lelang ini dapat untung. Dia berinisiatif menjual uang kuno dengan hasil lelang yang nilainya tinggi. Dari hasil transaksi, sekarang istrinya beralih mendukungnya untuk bisa terus di dunia barang antik khususnya uang kuno. Andi memiliki hampir seribu lembar uang kuno asli, karena masih bisa diterawang. Apalagi dia sempat mengecek memakai senter untuk menerawang uang lama. Uang tersebut agar awet disimpannya di buku album dengan pelindung plastik, agar tidak usang. “Uang kuno yang saya miliki dari zaman VOC Belanda tahun 1700, penjajahan Jepang, era Presiden Soekarno, Soeharto hingga uang edisi tahun 1990-an. Semakin langka uang tersebut, tinggi pula harganya,” terangnya.

Andi ketika bertransaksi lelang, ada yang harga awal atau kelipatan Rp 10 ribu hingga Rp 100 ribu. Jadi semakin langka barangnya, akan mahal harganya saat transaksi lelang, sehingga bukan berdasarkan tahun terbitan. Uang seri seribu Soekarno, uang penjajahan Belanda, dan uang barong atau wayang yang dinilai tinggi harganya.

Kondisi uang juga mempengaruhi harga, bahkan ada istilah-istilah gradis atau tingkatan uang dalam menilai uang kuno ini. Di antaranya, UNC (uncirculated) tingkatan tertinggi karena baru dan kondisinya masih sempurna. AU UNC (about uncirculated) tingkatan uang kuno nomor dua, EX atau extremly fine  tingkatan nomor tiga, VF atau very fine tingkatan nomor empat. Sampai sekarang dia bermimpi ingin mendapatkan uang era penjajahan Belanda bergambar wayang, karena nilainya tinggi.

Pria 28 tahun ini selain mengikuti lelang, kadang  membuka lelang sendiri dari barang-barang koleksinya. Peminatnya banyak dari Tulunggaung hingga luar kota seperti Kediri, Trenggalek hingga Ponorogo. Untuk peminat uang kuno di Kota Marmer banyak hingga beberapa daerah di nusantara. “Saya melakukan lelang dan jual beli uang kuno ini agar modal saya bisa mutar terus. Termahal saya pernah menjual uang kuno era penjajahan Belanda dengan harga Rp 4 juta. Sebenarnya uang kuno Belanda gambar wayang nilainya tinggi, tapi saya tidak koleksi,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, bila di Tulungagung ada 10 orang yang memiliki hobi koleksi dan usaha jual beli uang kuno ini. Bahkan beberapa kali mereka mengadakan kopi darat hingga pernah sekali melapak di suatu bazar di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru.

Selain itu, peminat uang kuno ini bervarian yang memesan kepada Andi, ada pesan pecahan Rp 100 dan Rp 500 satu gepok. Peminat uang kuno ini ada murni kolektor, juga ada dijual lagi.  “Alhamdulilah saya omzet dari jual beli uang kuno ini tiap bulan Rp 6 hingga 7 juta. Saya fokus jual beli sekarang. Maka dari itu, saya tertarik pekerjaan ini karena langka dan hobi. Bila tidak dengan hobi, takut berhenti di tengah jalan,” pungkasnya. (jar/din) Editor : Aburizal Sulthon Hakim
#uangkuno #tulungagung #andiseptianto