Tulungagung - Mengabadikan momen dan tempat lewat udara memang tidak dikuasai oleh semua pekerja di bidang visual. Apalagi, pekerjaan ini di Tulungagung hanya ada beberapa orang lantaran sebagian sudah mulai pindah ke luar kota. Termasuk Tegar Setiawan Pambudi yang menjadi freelancer pilot drone sejak 2019.
Tegar, sapaan akrabnya, memang suka bermain drone sejak 2018 silam. Ternyata, hal itu berawal ketika menjadi importir drone mainan dari Cina dengan menjual online. Apalagi, setelah dicoba beberapa bulan, profit dari importir drone cukup menggiurkan. Minat dari anak-anak di Tulungagung tinggi.
“Saya saat itu juga menjual drone professional. Sasarannya orang luar Jawa. Harganya sekitar Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Drone mainan lebih ke bapak-bapak yang membelikan anaknya dengan harga Rp 500 ribu,” ujarnya.
Ketika 2018 akhir, dia mencoba terjun ke produksi video drone karena memang ingin meningkatkan kemampuannya. Bahkan, pekerjaan pertamanya sebagai pilot drone yakni mengerjakan video klip dari penyanyi dangdut bernama Dona Leone yang pernah ikut D’Academy. Pekerjaan itu didapat karena dia diajak temannya yang juga videografer.
Dia memulai karir sebagai pilot drone hanya iseng, tetapi hingga kini masih merasa ingin terus belajar. Meskipun kini, dia sudah banyak menerima pesanan pembuatan video dari intansi pemerintahan di Tulungagung dan swasta. Apalagi, dia juga diminati dalam mengoperasikan drone di wilayah kota Marmer ini.
“Saya lebih sering menggarap video profil perusahaan atau intansi pemerintahan. Terkadang mengerjakan video pernikahan. Selama menjadi pilot drone tidak ada kendala, tapi terkadang klien minta lokasi yang sulit terjangkau. Apalagi risikonya besar, sehingga tarifnya ditambah,” ungkapnya.
Bahkan, hingga kini Tegar sudah tidak bisa menghitung berapa job yang telah didapatkannya. Namun, rata-rata dalam sebulan ada lima hingga enam klien yang meminati jasanya. Pekerjaannya ini baru saja dalam kondisi normal lantaran ketika Covid-19 selama dua tahun sepi.
“Selain menerima pekerjaan sebagai pilot drone, saya menyewakan tiga unit drone tanpa pilot. Tarifnya sehari sekitar Rp 1 juta untuk tiga baterai, kalau dengan pilot bisa lebih tinggi harganya. Alhamdulillah banyak peminat,” terangnya.
Tingginya minat terhadap drone lantaran di Tulungagung sangat jarang ditemui vendor yang bisa mengelola helikopter kecil itu. Namun, hanya orang-orang tertentu yang menyewa alat itu karena tidak semua videografer bisa mengoperasikan. Dia lebih mengutamakan menyewakan drone dengan pilotnya karena khawatir apabila terjadi kerusakan.
Hal itu pernah terjadi beberapa waktu lalu. Drone miliknya disewa seseorang dan dikembalikan dalam kondisi baling-baling sudah rusak. Setelah itu, penyewa diminta untuk mengganti rugi sekitar Rp 300 ribu.
Ke depannya, dia bercita-cita ingin membuat vendor sendiri. Namun, tidak hanya drone, tetapi juga video bawah. Bahkan, dia telah memiliki tim sehingga tinggal mempersiapkan sematang mungkin untuk membuat vendor.
“Saya sekarang masih freelance, tapi nanti bersama teman-teman buat vendor dokumentasi khusus company profile. Selama ini, job dan penyewaan drone berjalan beriringan. Namun, lebih menghasilkan job, karena penghasilannya lebih dari Rp 5 juta,” pungkasnya. (*/c1/din) Editor : Nurul Hidayah