Tulungagung - Menjadi seorang konten kreator tidak semudah yang dibayangkan. Menjaga kualitas konten, membagikan inspirasi, dan menimbang aspek kependidikan, menjadi kunci dari Muhammad Nur Ichsan Aqibinnasik dalam membuat konten-konten kreatifnya. Dengan konsistensinya membuat konten mendidik, pemuda 27 tahun tersebut kini banjir rezeki dengan membuat konten kreatif.
Hingga kini jutaan orang telah menonton konten video kreatif karya pemuda asal Desa Sidorejo, Kecamtan Kauman. Dia kerap membagikan konten tentang inspirasi berbusana, travel, serta pendidikan. Berkat konsistensinya dalam memproduksi karya kreatif, kini dia kebanjiran rezeki ratusan ribu rupiah hanya dengan membuat satu video
Muhammad Nur Ichsan Aqibinnasik atau akrab disapa Nasik, merupakan salah satu konten kreator dari salah satu platform video jejaring sosial. Seluruh capaiannya berawal dari keisengannya dalam mengisi waktu luang saat pandemi. Saat awal mengunggah video masih sepi penonton. “Awalnya masih sepi yang nonton, sampai ada salah satu video yang saya upload itu meledak hingga jutaan penonton,” jelasnya, Rabu (12/4).
Pria yang berprofesi sebagai guru agama Islam di salah satu SMP di Tulungagung ini konsisten memproduksi video kreatif sejak dua tahun silam. Dia mengaku memang menyukai setiap proses dalam pembuatan video tersebut. “Mulai dari cari ide sampai editing itu saya lakukan sendiri. Semuanya saya lakukan dengan handphone,” ucapnya.
Sebenarnya, dia telah membuat beragam konten kreatif, mulai dari inspirasi dalam berbusana, aktivitas mengajar, traveling, hingga kuliner yang ada di Tulungagung. Dalam membuat konten kreatif tersebut, dia berpatokan pada nilai pengetahuan serta esensi dari sebuah video tersebut. “Bahkan kalau bisa ada nuansa-nuansa Tulungagung. Jadi sekalian membagikan kearifan lokal yang ada di sini,” paparnya.
Kini setidaknya ada puluhan ribu orang yang telah mengikuti Nasik di akun media sosialnya. Mengetahui hal tersebut, dia pun ditawari oleh salah satu manajemen untuk mendapatkan pekerjaan dukungan bagi sebuah produk atau endorsement. Saat ini dia bisa mendapatkan endorse mencapai Rp 500 ribu dalam satu video. “Awalnya Rp 90 ribu per video itu. Kalau brand-brand besar itu bisa sampai segitu, tapi kalau UMKM ya sekitar Rp 200 ribu,” ungkapnya.
Disinggung perihal kesulitan dalam pembuatan sebuah konten video, dia mengaku bahwasanya kesulitan ada dalam proses editing. Proses editing memakan banyak waktu sehingga menjadi salah satu kesulitan dalam pembuatan konten tersebut. “Sebenarnya dikit-dikit itu bisa ngedit sendiri, tapi waktunya. Kadang-kadang saya ngedit itu bisa sampai jam 02.00 dini hari baru selesai,” tutupnya. (mg2/c1/din/rka) Editor : Aburizal Sulthon Hakim