Elis sapaan akrabnya, menekuni keterampilan membuat kain dengan aneka corak sejak tahun 2016. Hingga kini usaha yang diberi nama Zulva Signature telah meraih banyak penghargaan. “Suka bereksperimen dan belajar hal-hal baru. Untuk penghargaan-penghargaan yang didapat menurut saya itu hanya bonus,” katanya.
Tak hanya terampil dalam membuat kain polos menjadi barang unik dan memiliki nilai jual, Elis juga tak pelit ilmu. Ia kerap kali membuat pelatihan dan workshop tentang ecoprint yang sebagian besar peminatnya datang dari ibu-ibu maupun penggiat UMKM lainnya. "Sering bikin pelatihan dan workshop buat komunitas, dinas pemerintahan, sekolah, juga individu. Nggak usah takut berbagi ilmu, karena setiap tangan memiliki keterampilan yang berbeda-beda," ujarnya.
Terus memasarkan produknya sendiri melalui media sosial Facebook dan WhatsApp. Ia sengaja tidak membuka toko online pada marketplace, sebab barang produksinya hanya dibuat dalam jumlah terbatas setiap edisinya dan langsung terjual habis pada hitungan menit. Itu adalah ciri khas produknya sehingga terkesan lebih eksklusif dan akhirnya banyak dinanti-nantikan.
Kini produk ecoprint-nya tidak hanya diterapkan untuk baju, melainkan juga pada mukena, tas, topi, dan sepatu. Tak hanya berhenti di situ saja, dirinya juga menerbitkan sebuah buku panduan pembuatan ecoprint agar orang-orang yang ingin belajar lebih paham.
“Tantangannya tentu kita dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif. Bisa mengembangkan bahan yang dari alam yang ada di sekitar. Sejauh ini tantangan-tantangannya bisa diatasi dan saya terus berusaha untuk mengembangkan lagi,” ujar Elis sebagai penutup dari sesi wawancara.(meg/tin) Editor : Intan Puspitasari