Terpenting, kandang harus memiliki sirkulasi udara yang baik dan harus diberi tanaman hidup untuk menyesuaikan dengan habitatnya. Tanaman lokal seperti sirih gading dan walisongo bisa menjadi pilihan. Sebab, tanaman tersebut selain membuat udara dalam kandang sejuk, juga bisa membuat hewan tidak stres karena digunakan sebagai tempat persembunyian. Ditambahkan, kandang harus dilengkapi dengan air untuk minum dan menjaga kelembapan. Namun, kameleon tidak minum dari genangan air sehingga kandang harus dilengkapi dengan tetesan air. “Biasanya hewan ini akan minum dari daun yang basah, jadi bisa juga diberi sprayer,” jelas Yanuar Imsyaka Sabih, breeder kameleon asal Desa/Kecamatan Durenan.
Disarankan memelihara kameleon di lingkungan outdoor. Jika di dalam ruangan, maka harus ada UVB. Itu pun tetap perlu dijemur matahari langsung minimal 30 menit tiap hari. Kemudian, makanan kameleon itu hanya serangga, mulai jangkrik hingga ulat. Namun, Adrian menyarankan pemelihara untuk memberikan jangkrik plus kalsium jika ingin tumbuh kembangnya cepat. Kendati perawatan dikatakan rumit, tetapi hasilnya sepadan. Sebab, seperti jenis kameleon Panther yang paling diminati itu memiliki harga sekitar Rp 3 juta–Rp 4 juta per ekor untuk usia 2–3 bulan.
Sementara untuk jenis lainnya seperti Veiled chameleon berkisar Rp 1 juta–Rp 1,5 juta per ekor untuk usia yang sama. “Besar mahalnya hewan ini selain dari warna juga ditentukan dari jenisnya. Sebab, dulu milik saya ada yang pernah ditawar hingga Rp 25 juta, tapi tidak dilepas. Sedangkan penjualan tertinggi saya ada di harga Rp 15 juta,” imbuh pria 30 tahun ini.
Proses penjualannya biasa dilakukan melalui online. Dari situ, kameleon hasil budi dayanya pernah dijual di beberapa daerah seperti Palembang, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya. “Keunikan lain hewan ini ada pada indra penglihatan. Dua matanya mampu berputar 360 derajat. Sisi kiri dan kanan itu bisa bergerak sendiri-sendiri, tidak sinkron satu sama lain. Makanya saya suka memeliharanya, dan syukurlah bisa mendapatkan hasil,” jelasnya. (jaz/c1/rka) Editor : Aburizal Sulthon Hakim