Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lancar Jalankan Kuliner Pempek, Ini Resep Andalan Alifah Wahyuni Mutia

Dharaka Russiandi Perdana • Senin, 8 Mei 2023 | 02:52 WIB
MANDIRI: Alifah Wahyuni Mutia sejak kuliah sudah menjalankan usaha kuliner.(foto: Alifah Wahyuni Mutia untuk Radar Tulungagung)
MANDIRI: Alifah Wahyuni Mutia sejak kuliah sudah menjalankan usaha kuliner.(foto: Alifah Wahyuni Mutia untuk Radar Tulungagung)
TULUNGAGUNG - Belajar menjadi pengusaha muda memang tidak mudah. Perlu diuji dengan penuh rintangan, termasuk dirasakan Alifah Wahyuni Mutia. Warga Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, ini kini disibukkan dengan modeling dan usaha kuliner pempek.

Alifah -sapaan akrabnya- menceritakan bahwa sejak bulan puasa melakoni usaha pempek, makanan khas Palembang. Sebelumnya, bisnis itu sudah dijalankannya sejak akhir 2022, tetapi dengan sistem delivery order. “Peminat pempek ini lumayan tinggi, apalagi sudah ada pelanggan tetap yang naksir pempek buatannya. Selama puasa, saya membuka orderan offline sejak pukul 14.00 WIB,” ujarnya.

Pempek ini dirintis karena dia diajarkan oleh ibunya yang memang asli Palembang. Melihat buah hatinya ingin produktif dan mandiri, dia tentu didukung sehingga diajarkan resep untuk membuat pempek. Apalagi, di Tulungagung, dia harus memenuhi kebutuhan adiknya yang berada di pondok pesantren, sedangkan orang tuanya di Palembang.

Bapaknya banyak mendukung usaha kulinernya karena kurang menyukai jika dirinya menjadi karyawan. Maka, dia dicarikan usaha kuliner yang tidak ada di Tulungagung, hingga ketemu pempek.

Namun, rasa pempek buatan Alifah tentu berbeda dengan pempek asli Palembang. Itu karena dia membuat pempek dos atau tanpa ikan tenggiri, sehingga diganti dengan ikan teri. Perbedaan rasa juga dipengaruhi sulitnya mencari bahan, karena membutuhkan gula aren asli, harus memakai tepung sagu dan ikan teri, bukan tenggiri.

“Saya mulai merintis ini, awalnya sempat jatuh sakit sebulan karena usai melakoni show alabela model. Saya kelelahan, hingga akhirnya keluarga mencari usaha kuliner yang mudah. Namun masih tetap sibuk di modeling,” terangnnya.

Perempuan 23 tahun ini mengaku melakoni kegiatan modeling dan jualan pempek secara beriringan. Dia tentu harus membagi waktu untuk keduanya. Jika ada kegiatan modeling, jualan pempeknya libur atau mempekerjakan orang untuk membuka usahanya tersebut.

Dalam satu bungkus, pempeknya berisi enam dengan harga Rp 10 ribu. Tiap hari dia melayani 10 hingga 20 pembeli. Bahkan, dia pernah mendapatkan pesanan hingga 40 bungkus pempek dalam sehari, apalagi diproduksi dan dijual sendiri.  “Terbanyak yang beli orang Trenggalek. Saya juga mengantarkan pempek ini sendirian. Jika ada acara modeling, ya sekalian mengantarkan pempek sehingga bisa sekaligus terlampaui,” pungkasnya.(jar/c1/din/rka) Editor : Dharaka Russiandi Perdana
#pemuda tulungagung #pengusaha muda tulungagung #pengusaha kuliner #pengusaha muda