Dari riset yang dilakukan sebelumnya, didapati beberapa daerah di Pulau Jawa memiliki cerita Baru Klinting dengan versi masing-masing. Salah satu contohnya adalah cerita Baru Klinting di Kota Salatiga. Tulungagung juga punya legenda itu. Untuk melakukan highlight legenda Baru Klinting dari Tulungagung, salah satu cara yang dilakukan adalah riset melalui naskah kentrung.
“Naskah kentrung itu kan menggunakan bahasa Jawa lama yang susah. Beruntung dibantu dengan teman-teman buat menerjemahkannya ke bahasa Indonesia,” jelas Agris, sapaan akrab Aprilia Shinta.
Prosesnya bukan sekadar menerjemahkan. Selanjutnya, Agris harus memikirkan naskah kentrung yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa semiotika visual sebelum diilustrasikan. Ada juga proses untuk menelaah kemampuan anak dalam membaca berapa lembar buku yang mampu dan bisa dibaca. “Memang agak susah membuat buku ilustrasi yang kaitannya dengan sejarah. Perlu kerja keras,” katanya.
Waktu sekitar enam bulan diperlukan untuk melakukan berbagai riset sampai proses pengerjaan buku ilustrasi. Ada juga sisi egois yang muncul dalam dirinya saat pembuatan buku ilustrasi. Yakni, di tengah-tengah dunia digitalisasi saat ini, proses pembuatan buku ilustrasi sepenuhnya menggunakan teknik watercolor.
“Ingin saja menggunakan cara manual, menggunakan media paper dengan proses-proses tertentu di belakangnya. Jadi, proses kreatifnya pun membutuhkan waktu yang lama,” katanya.
Meski demikian, secara umum dia menikmati pembuatan buku ilustrasi dengan cara manual. Dengan cara manual yang digunakan, anak-anak pembaca buku ilustrasinya akan bisa menikmati setiap sentuhan artistik yang baik di dalamnya. Jadi, tidak hanya sebagai media pengetahuan legenda Baru Klinting asal Tulungagung. Namun, anak-anak bisa menikmati keindahan di dalamnya.
“Ada cara yang asyik dan lebih indah untuk menikmati legenda, yakni dengan sentuhan artistik yang baik,” katanya.
Dia melanjutkan, buku ilustrasi itu sebenarnya dibuat untuk memenuhi tugas akhir perkuliahannya. Namun setelah proses panjang yang telah dilalui, Agris malah berniat untuk membuat hal serupa dan saat ini juga mulai dipersiapkan. Buku ilustrasi tentang sosial budaya menjadi keinginannya.
“Setahun terakhir, saya berencana membuat buku ilustrasi lagi. Lebih mengarah ke sosial budaya yang menceritakan Kabupaten Tulungagung. Mungkin tahun depan juga akan menggelar pameran untuk itu,” katanya.
Sekaligus, apa yang dilakukan adalah untuk mengenalkan dunia ilustrasi yang masih belum terlalu muncul di masyarakat. Dengan begitu, peluang buku ilustrasi untuk bisa eksis di tengah-tengah masyarakat mulai terbuka lebar di tengah dunia digitalisasi dewasa ini. Karena mulai dari buku sejarah sampai buku anak, sebenarnya bisa saja diselipkan ilustrasi di dalamnya.
“Kalau di Indonesia, industri ilustrasi itu sebenarnya belum terlalu kuat, termasuk infrastruktur hukumnya. Seperti dalam hal tenaga kerja yang menggantungkan bidang itu masih belum terakomodasi seperti pekerja lainnya,” katanya.
Dia menambahkan, perkenalannya dengan dunia ilustrasi dimulai sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Kala itu, Agris sampai berkonsultasi dengan psikolog sebelum memutuskan untuk terjun di dunia ilustrasi. Setelah menyelesaikan studinya yang tidak jauh dari dunia ilustrator, kini perempuan tersebut juga bekerja sebagai ilustrator digital. (nul/c1/din/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana