Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Indonesia Bangkit Terhormat Tahun 1945 dan Selanjutnya 2065

Intan Puspitasari • Rabu, 24 Mei 2023 | 18:30 WIB
Photo
Photo
NEGARA INDONESIA pernah mengalami fase terhina pada tahun 1885 karena kejatuhan kerajaan-kerajaan di Nusantara saat itu, lalu mengalami fase terhormat pada tahun 1945 (pada 17 Agustus 1945) bertepatan proklamasi kemerdekaan RI. Tetapi sayangnya, keadaan bangsa Indonesia mengalami fase terhina lagi pada tahun 2005 karena dinyatakan sebagai negara paling terkorup di dunia.

Seiring perkembangan zaman perlahan-lahan mengalami kebangkitan, sedikit demi sedikit hingga tahun 2023 sekarang ini sudah berada di atas fase normal. “Selanjutnya kita merasa optimistis bahwa negara kita akan mengalami fase terhormat lagi pada tahun 2065,” ujar Laksma (Purn) Hadi Santoso mengenai siklus 60 tahunan tentang jatuh bangunnya citra bangsa Indonesia dalam sarasehan budaya bersama ForSabda (Forum Sarasehan Seni dan Budaya), di Lotu’s Garden, Ketanon, Kedungwaru, Sabtu (20/5) malam.

Sarasehan dalam memperingati Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) dan Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) dengan tema Kebangkitan Pendidikan dan Pendidikan yang Membangkitkan yang dipandu moderator Elis Yusniyawati (dosen UIN SATU Tulungagung) itu, selain Laksma (Purn) Hadi Santoso, tampil sebagai narasumber antara lain mantan Kepala LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Timur Bambang Agus Susetyo (AS), Agung Pinastiko (guru SMUKED I), dan Ki Wawan Susetya (budayawan). Dalam sarasehan budaya tersebut, juga disemarakkan dengan krawitan Cahyo Yuwono dari Lotu’s Garden dan Ngesthi Laras pimpinan Ki Handaka dari Tanggung Glotan.

Narasumber, Ki Wawan Susetya juga menyinggung tentang siklus kejayaan Nusantara dengan siklus 7 abad (700 tahunan) yang dimulai dari kejayaan Kerajaan Sri Wijaya pada abad VII, lalu kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad XIV di bawah kepemimpinan Ratu Tribuwana Tunggadewi, dan Prabu Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada yang puncaknya pada tahun 1350. Selanjutnya diprediksi kejayaan Nusantara pada abad XXI (dari tahun 2001 sampai 2099) sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Jokowi menuju Indonesia Emas (100 tahun Indonesia Merdeka) pada tahun 2045. Dengan demikian, bila dibandingkan dengan siklus 60 tahunan mengenai gelombang Citra Bangsa Indonesia oleh Laksma Hadi Santoso yang menyebut tahun 2065 tidak terpaut jauh dengan 2045 Indonesia Emas.

Selain itu, Wawan juga mengulas mengenai kebangkitan Nusantara yakni dalam upaya mempersatukan Nusantara atau disebut Cakrawala Mandala Nusantara. Cakrawala Mandala Nusantara I yakni dimulainya dari cita-cita Prabu Kertanagara (Raja Singasari) pada tahun 1292 M menyatukan Nusantara dengan melakukan Ekspedisi Pamalayu di Sumatera dan seterusnya, selanjutnya diteruskan misi Ratu Gayatri yang dilakukan oleh putinya Ratu Tribuwana Tunggadewi dan dilanjutkan putranya Prabu Hayam Wuruk puncaknya pada tahun 1350 M dan ketiga momentum kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Wawan juga mengisahkan ketika para tim dari Kemendikbud melakukan studi banding mengenai pendidikan ke negara Finlandia. Ternyata, negara Finlandia justru telah mengadopsi sistem pendidikan Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara yang kemudian diwujudkan melalui Kurikulum Merdeka sekarang ini. Artinya, negara Finlandia yang mengadopsi sistem pendidikan Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara ternyata menempati 20 besar pendidikan terbaik di dunia, sedangkan negara Indonesia masih jauh di bawah.

“Dengan menggunakan sistem pendidikan Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara, maka para siswa diharapkan dapat belajar seperti di taman. Artinya, belajar dengan perasaan nyaman dan hati senang, jauh dari beban belajar di sekolah,” tutur Wawan.

Selain Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani, diharapkan para siswa juga dapat belajar dengan menggunakan cipta, rasa, dan karsanya. Diharapkan pula para pengelola pendidikan tidak melupakan konsep Tri Kon-nya Ki Hadjar Dewantara, yakni Konsentris (memusat), Konvergen (menyeluruh) dan Kontinu (berkelanjutan).

Wawan juga menngingatkan kembali mengenai kiat mengajar atau mendidik dari kearifan lokal bagi seorang guru, orang tua termasuk pemimpin, yakni  mulat (mengetahui), milala (memberikan bombongan), miluta (membimbing), palidarma (memberikan tauladan), dan palimarma (memaafkan).

Selanjutnya, sarasehan budaya dengan tema Hardiknas dan Harkitnas tersebut diramaikan dengan lebih gayeng lagi dalam sesi dialog atau tanya-jawab dengan para audiens. (Wawan Susetya).

 

  Editor : Intan Puspitasari
#hari pendidikan nasional #sejarah #forum seni dan budaya #indonesia