Barik, panggilan akrabnya, menjadi pelatih sejak duduk di bangku SMA atau sekitar 2014. Dia melatih di sekolahnya, beberapa SD, dan sekolah di Blitar, hingga sebagian menjadi juara kompetisi sejak 2015. Barik juga sempat menjadi pemain marching band di kejaraan provinsi (kejurprov) pada tahun 2016, meskipun tidak menjadi juara umum. “Pada 2017 masuk UIN dan mengikuti kejuaraan hingga ke kompetisi internasional,” kata Barik.
Dia melanjutkan, UIN Tulungagung pernah dibawanya menjadi juara 1 marching band di Kediri tingkat Jawa Timur (Jatim). Bahkan, setelah itu, dia silih berganti menjuarai kompetisi dengan membawa UIN dan SMA yang dilatihnya menjadi juara marching band. Pada 2019, dia sukses mengantarkan UIN menjadi juara 2 nasional di Bali.
Namun, ketika memasuki pandemi Covid-19, hanya sedikit kompetisi yang diikutinya. Menariknya, Barik terus sukses membawa nama marching band UIN Tulungagung secara internasional. Yakni, dengan menjuarai kompetisi yang diadakan lembaga di Malaysia pada 2020 lalu secara virtual. Mungkin jika ditotal lebih dari belasan kompetisi yang dijuarainya.
“Saya juga ikut marching band umum atau komunitas di Tulungagung. Namun sekarang lebih aktif melatih, karena sibuk jadi mahasiswa S-2. Selain itu, saya sekarang juga menjadi tim marching korps music Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, jadi tiap upacara saya yang mengiringi,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, membagi jadwal mengajar merupakan kesulitannya ketika menjadi pelatih marching band. Itu lantaran dia melatih beberapa sekolah dan universitas, apalagi bertemu beberapa muridnya yang berbeda karakter. Hal itu di atasinya dengan mengajar di sekolah ketika sore, sedangkan di UIN saat malam hari. Terlebih, ketika lembaga yang diajarnya sama-sama ada kejuaraan, dia tidak akan bisa tidur nyenyak.
Selain itu, dia juga sedikit kesulitan dengan konsep materi yang dibawakan karena tentunya tiap kompetisi berbeda tema. Apalagi, pada kejuaraan, konsep paling utama karena hal itulah yang membedakan setiap tim marcing band.
“Kadang ketika konsep dapat, aransemen lagunya yang menjadi kesulitan. Saya sering terinspirasi dari lagu soundtrack film untuk dijadikan lagu di marching band, seperti film Aladin dan How To Train Your Dragon,” pungkasnya. (jar/c1/din/rka) Editor : Aburizal Sulthon Hakim