RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Novel fiksi berjudul Filosofi Kopi merupakan karya Dee Lestari. Ia merupakan penyanyi yang sudah tak asing di telinga, karena karya-karya lagunya yang sudah tak diragukan lagi seperti, Perahu Kertas, Rectoverso, dan Supernova. Kembali ke novelnya, pertama kali diterbitkan tahun 2006 dan berhasil meledak di pasaran. Kisah di dalam novel sampai dijadikan film layer lebar dengan judul yang sama di tahun 2015, serta sekuelnya rilis pada tahun berikutnya yakni 2017. Novel Filosofi Kopi mendapat anugerah karya sastra terbaik tahun 2006 oleh majalah Tempo. Filosofi Kopi juga mendapat penghargaan 5 Besar Khatulistiwa Award kategori fiksi.
Novel berkisah tentang kedai kopi sederhana tapi kedai ini diciptakan dengan instensitas yang sangat diperhitungkan.Ben dan Jody, adalah dua laki-laki yang merintis usaha kedai kopi itu. Ben sebagai barista yang meracik aneka kopi dan selalu menyukai hal berbau kopi. Sampai-sampai ia berkonsultasi dengan pakar peramu kopi dari berbagai negara yaitu Paris, London, Moskow, New York, Roma, dan Amsterdam untuk menciptakan rasa kopi yang sempurna.
Kopi buatan Ben selalu memiliki makna yang berbeda dari filosofi menurut opininya. Tentu, hal ini menarik pelanggan di kedai kopinya, sehingga tak heran jika kedainya tak pernah sepi pengunjung. Suatu saat kedainya didatangi orang kaya dan memberinya tantangan. Ben ditantang untuk membuat kopi dengan rasa yang sempurna. Setelah menerima dan berhasil membuat kopi yang diminta, racikan kopi tersebut menjadi menu favorit pelanggan.
Beberapa waktu kemudian, ada yang datang ke kedainya dan memesan menu favorit itu kemudian mengatakan bahwa rasa dari kopi tersebut tidak lebih enak dibandingkan kopi yang pernah ia cicipi saat di Jawa Tengah.
Hingga pada akhirnya, Ben sadar bahwa kesempurnaan yang ada pada kopi racikannya tetap memiliki rasa pahit, karena kopi adalah kopi dengan rasa pahit yang tidak dapat disembunyikan.
Layaknya kehidupan, apapun akan memiliki makna. Pemaknaan tersebut hadir dari diri sendiri dan melalui pemikiran yang baik pula. Dibalik kelebihan akan ada kekurangan, sesempurnanya kopi di dunia, kopi selalu memiliki rasa pahit yang tidak bisa disembunyikan.
Suatu saat, apabila mencari yang lebih sempurna dari apa yang dimiliki, akan terus ada yang lebih sempurna. Sehingga, harus memutuskan dua opsi yaitu bersyukur atas apa yang dimiliki atau tetap terus mencari yang lebih sempurna tanpa ada ujungnya.
Editor : Nanda Nila Alvinda