RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tulungagung yang dulunya merupakan Kadipaten Ngrowo yang selalu menjadi sasaan banjir tiap tahunnya, berdiri kokoh sejak dibangunnya terowongan Niyama pada zaman transisi belanda-jepang. Selain itu, Tulungagung memiliki banyak potensi perkebunan yang membantu olah pangan dan ekonomi masyarakat. Termasuk perkebunan tebu yang masih ada hingga sekarang.
Berbicara mengenai sektor tebu saat ini, Tulungagung masih memiliki pabrik terbesar lho sebagai pengolahan tebu menjadi hasil pangan. Yaitu Pabrik Gula Modjopanggoong. Pabrik gula legendaris yang masih eksis ini berlokasi di Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman hingga sekarang masih beroperasi.
Pabrik Gula Modjopanggoong yang sudah beroperasi sejak zaman kolonial ini menyimpan banyak misteri yang kelam. Banyak desas-desus terkait asal mula lokasi ini dibangun. Salah satunya, Misteri Nonik Belanda atau Nyi Kontring.
Dikisahkan bahwa Nyi Kontring ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Nyi Kontring yang memiliki darah Belanda rupanya yang mendirikan bangunan ini sejak tahun 1852 silam. Pengambilan nama 'Modjopanggoeng' ternyata tidak diambil dari nama asli desa di Kecamatan Kauman. Padahal banyak pabrik gula yang memiliki nama diambil dari nama desa. Tetapi, uniknya nama Modjopanggoong sendiri hingga sekarang tidak diketahui asalnya darimana.
Sempat beberapa kali Pabrik Gula Modjopanggoong berpindah nama beserta nama pemilik. Pada tahun 1957, PG Modjopanggoong masuk ke dalam Perusahaan Negara Perkebunan atau PNP. Lalu pada tahun 1973, PNP berubah menjadi Perusahaan Perseroan atau dikenal dengan nama PT. Perkebunan XXI-XXII. Berakhir pada tahun 1996, terjadilah merger PTP XXI-XXII dan PTP XIX, hingga melahirkan PTPN X (Persero) seperti sekarang.
Meski jejak peninggalan Belanda terasa masih pekat, Pabrik Gula Modjopanggoong memiliki pengaruh yang kuat terhadap potensi ekonomi di Tulungagung. Hal itu guna untuk mengangkut hasil-hasil panen seperti proses penggilingan tebu, pengangkut tebu, dan tempat pemasokan. Hingga kini, pabrik tersebut masih beroperasi.
Editor : Nurul Hidayah