RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Diketahui bahwa pada zaman dulu, Tulungagung merupakan sebuah daerah yang selalu rawan tergenang air. Karena selalu menjadi langganan banjir setiap tahunnya, Pemerintah Kabupaten Tulungagung pada zaman kolonial dibangun Terowongan Niyama yang bertujuan sebagai aliran banjir dan akhirnya dapat dialirkan ke bagian selatan laut jawa.
Karena Tulungagung dari waktu ke waktu mengalami banyak perubahan hingga renovasi besar-besaran hingga bertambahnya penduduk, ruas jalan dibangun lebih bercabang lagi untuk memudahkan tempat tinggal bagi penduduk setempat. Tak luput juga, bangunan Masjid Agung Al-Munawwar yang masih tetap kokoh hingga sekarang.
Masjid Besar yang berlokasi di sebelah kiri Taman Aloon-Aloon menjadi saksi bisu dalam sejarah Tulungagung tempo dulu.
Masjid Agung Al-Munawwar mengalami renovasi besar-besaran sejak pemerintahan Bupati Tulungagung yang pertama, R.M.T Djojodiningrat (1847). Konon, sempat terjadi perpindahan antara Masjid Jami’ Tulungagung yang sekarang menjadi Masjid Jami' Al Muhajjirin di Desa Gedangsewu, Boyolangu dipindahkan ke pusat kota. Namun, hal ini hanya beberapa yang berhasil dipindahkan seperti perabotan dan model ornamen atau gaya bangunan. Hal ini dapat dilihat desain masjid yang hampir mirip.
Masjid ini memiliki dua lantai yang dapat digunakan sebagai jamaah untuk menunaikan sholat. Selain tak pernah sepi para jamaah, Masjid Agung Al-Munawwar sering digunakan sebagai perkumulan agenda kegiatan pemuda-pemudi masjid disana. Editor : Nurul Hidayah