RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pernah kah mendengar celothehan kayak gini waktu main di jalan sempit tepi sawah atau kebun? 'bocah nylanditan tekan tritis?' Ungkapan seperti itu seringkali digunakan para ibu-ibu saat melihat anak-anak main ke tepi sawah atau pinggir kebun.
Kata 'Tritis' mengacu dari beberapa hal. Termasuk pengambilan dari nama sebuah wisata di Goa Tritis, yaitu Goa Tritis. Goa Tritis Tritis merupakan salah satu tempat petilasan bersejarah di Tulungagung. Goa Tritis terletak di Desa Tanggung, Kecamatan Campudarat, Kabupaten Tulungagung. Dinamakan 'Tritis' karena lokasinya yang berada di lereng Gunung Budeg sehingga berada di tepi pinggiran bukit. Selain itu, tempat tersebut pernah digunakan sebagai pertapaan Ratu Gayatri.
Goa Tritis sangat berperan penting bagi tempat peribadatan pada masa klasik silam. Diketahui bahwa Goa ini adalah salah satu peninggalan masa Hindu-Buddha yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan kecil yang disusun oleh batu bata dan kemudian pada sisi pintu pagar dibangun di sisi kanan. Uniknya, Goa yang berada di Tanggung ini memiliki banyak candi-candi dan arca-arca kecil.
Goa tritis sebenarnya merupakan ceruk alami yang isinya banyak arca-arca pada masa kejayaan Hindu-Buddha. Salah satunya, kamu bisa menemukan arca Dewi Parwati dengan tahun tertulis 1082 saka. Selain itu, sekitar 300 meter dapat ditemukan sebuah jedhing atau mata air yang mengalir.
Kemudian pada sisi kanan terdapat dua percabangan jalan yaitu jalan menuju Puncak Budheg sedangkan sebelah kiri itu menuju area jalan pemukiman warga Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat.
Jika meniti lebih dalam, terdapat banyak prasasti kuno dan arca-arca pada era peninggalan Buddha yang dibangun pada pemerintahan Raja Sri Ayyeswara di tahun 1091 saka.
Disamping itu, Goa Tritis telah dijadikan sebagai salah satu Cagar Budaya oleh Badan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Hal ini diresmikan pada tahun 1996 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur yang telah melakukan penelitian dan akhirnya di tahun 2017, Goa Tritis telah terverifikasi menjadi salah satu Cagar Budaya Provinsi yang patut dilestarikan.
Namun, kondisi tempat peninggalan sejarah ini sangat memprihatinkan. Perlu pelestarian oleh masyarakat saat mengunjungi tempat bersejarah tersebut. Dan juga masih banyak pengunjung yang melupakan adat kebersihan di suatu tempat wisata, terutama untuk peninggalan sejarah.
Editor : Nurul Hidayah