RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Muqoddimah Ngrowo, Tutur Lisan Hingga Tutur Tulisan menjadi buku pertama yang ditulis Agus Ali Imron Al Akhyar dan dipublikasikan pada 2015 silam. Lepas terbitan pertama tersebut, pria asal Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan itu cukup produktif dalam menulis. Hingga kini, total 8 buku sudah dibuatnya. Semua mengisahkan tentang sejarah Bumi Lawadan ini.
Buku pertamanya itu terinspirasi dari kitab Muqaddimah yang ditulis Ibnu Khaldun. Artinya, kurang lebih adalah pendahuluan. Ya, buku Muqoddimah Ngrowo, Tutur Lisan Hingga Tutur Tulisan menjadi permulaannya dalam menceritakan secara umum sejarah Tulungagung dalam bentuk buku. “Mulai berkeinginan membuat buku sekitaran tahun 2007. Awal mulanya karena penasaran dengan sejarah yang dimiliki Tulungagung,” ujar Agus, sapaan akrabnya.
Dia bercerita, dalam membuat buku pertama itu memerlukan banyak waktu untuk melakukan riset, pengumpulan data dan informasi, sampai proses analisis. Termasuk untuk mencari dokumen pendukung dan foto apabila beruntung mendapatkannya. Bayangkan saja, buku yang diterbitkan pada 2015 itu proses awalnya dimulai sejak 2007 silam. “Sebenarnya susah mendapatkan data-data sejarah Tulungagung, tapi kalau sudah terbiasa semuanya akan menjadi gampang,” katanya
Salah satu cara yang ditempuh untuk mencari inspirasi dalam menulis, bagi Agus, adalah sering datang bahkan tidur di kuburan maupun punden yang ada di Tulungagung. Starter pack untuk kegiatan itu cukup dengan pulpen dan buku tulis untuk mencatat, serta kamera untuk memfoto apa saja yang unik dalam kuburan tersebut. “Saat ke makam itu, paling tidak yang pertama dilakukan adalah memotret seandainya ada bagian makam yang bisa memunculkan identitas seperti nama, tahun, atau yang lainnya. Berikutnya jelas mendeskripsikan keadaan atau apa yang kita rasakan saat itu dalam tulisan,” katanya.
Pada intinya, sering pergi ke makam adalah untuk mencari inspirasi yang akan dituangkan dalam bentuk buku. Pun, Agus mengaku juga pernah didatangi sosok makhluk halus saat mencari inspirasi di kuburan. “Tidak sering sih, tapi pernah didatangi sosok makhluk halus,” ungkapnya.
Agus menambahkan, bukunya dengan bermacam-macam judul itu diprediksi sudah terjual sekitar 500 eksemplar sampai saat ini. Karena royalti yang diterimanya setiap bulan minimal Rp 1 juta dan itu masih bisa bertambah jika bukunya banyak yang terjual. “Enaknya membuat buku ya begitu. Kita akan terus mendapatkan royalti ketika karya laku di pasaran,” tuntasnya.(*/c1/rka)
Baca Juga: Harga Makin Melangit, Petani di Blitar Bagikan Tips Investasi Bonsai
Editor : Nurul Hidayah