RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Arsitektur lawasan Jawa mendapatkan banyak tempat di hati pencinta ataupun penikmatnya. Karya bangunan tradisional Jawa ini kini banyak dilirik untuk berbagai fungsi, salah satunya rumah makan.
Satu di antaranya sekaligus menjadi pionir di Tulungagung adalah Waroeng Jadoel Winna Joglo. Siapa sangka dari keinginan mendirikan warung sederhana, Winna Joglo mampu berkembang pesat, bahkan mampu menyuguhkan miniatur arsitektur Jawa. Tidak sekadar menikmati sajian menunya, pelanggan juga bisa belajar banyak tentang seni olah bangunan tradisional Jawa, khususnya Jawa Timur.
Owner Winna Joglo Anjar Handrianto menceritakan berbagai koleksi bangunan di Winna Joglo. Berawal tahun 2015, bersama sang istri, Restu Windiastuti, keduanya sepakat untuk mendirikan usaha warung. Ini untuk mengembangkan bisnis yang bermula dari hobi sang istri yang suka memasak. Lantas keduanya melebarkan sayap dengan menyediakan jasa katering.
Awalnya, lelaki yang lama bergelut di usaha konstruksi ini memilih bahan baja untuk bangunan warungnya. Namun, ayah dua anak ini berubah pikiran sepulang dari Bali di tahun 2015. "Waktu menyeberang di Gilimanuk, saya melihat ada kontainer yang mengangkut joglo lawasan ke Amerika. Wah ya muncul di hati saya seperti tidak bisa menerima. Ini kan warisan leluhur kita, banyak dijual ke luar negeri. Di situlah saya terketuk untuk nguri-uri (melestarikan) lawasan ini," ujar Anjar.
Setelah berdiskusi dengan sahabat yang paham tentang lawasan, Anjar pun memutuskan untuk membuat warung dengan konsep joglo. "Sepulang dari teman, saya dan istri masih belum klop. Istri masih menyayangkan kenapa mengubah dari konstruksi baja ke joglo. Ya karena ternyata joglo lebih murah biayanya, dan dengan keinginan nguri-uri tadi, akhirnya saya meyakinkan istri pakai joglo saja. Lha sekarang rasa kecintaan ke konsep lawasan ini malah lebih besar istri dibanding saya," sambung lelaki 57 tahun ini.
Awalnya, Anjar mengira warungnya akan banyak disinggahi sopir truk. Namun ternyata, banyak tamu yang datang bersama keluarga atau kolega. Kini dengan usahanya yang semakin tertata, Anjar mengaku sudah pada fase hidup mendapatkan ketenangan batin. Dari sekian banyak hobi mulai off road, moge, dan bersepeda, Anjar memilih menghabiskan banyak waktu di warungnya.
"Harapan saya dengan para tamu datang, mereka nyaman dan semakin tahu tentang budaya leluhur kita. Bagaimana rumah adat Jawa ini sarat dengan perhitungan dan filosofinya yang bagus. Dengan begitu, mereka jadi suka dan juga ikut menjaga dan melestarikan," harap Anjar. (zaq/c1/tin)
Editor : Anggi Septian A.P.