Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tiga Kesenian Tradisional Ini Masih Eksis di Tulungagung

Intan Puspitasari • Sabtu, 29 Juli 2023 | 04:00 WIB
Reog Kendang adalah salah satu kesenian khas Tulungagung
Reog Kendang adalah salah satu kesenian khas Tulungagung

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tak hanya dikenal dengan wisata pantainya yang memukau, Tulungagung juga memiliki potensi wisata lain yakni berupa kesenian. Ada banyak sekali kesenian yang ada di Tulungagung. Ada yang berupa tari-tarian, musik atau pementasan drama tradisional.

Berikut tiga kesenian tradisional yang sampai sekarang masih eksis dan sering ditampilkan di beberapa acara baik itu acara besar yang diadakan pemerintah maupun hajatan yang diadakan masyarakat. 

1. Reog Kendang. 

Seni asli Tulungagung ini sampai sekarang masih selalu dimainkan di berbagai acara. Menurut catatan dari Pemkab Tulungagung, Reog Kendang menggambarkan arak-arakan prajurit pasukan Kedhirilaya saat mengiringi rombongan pengantin Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud. 

Gerakan tari Reog Kendang, mengilustrasikan tentang sebuah perjalanan yang harus ditempuh oleh para prajurit. Mulai dari gambaran tentang beratnya beban yang mereka bawa sehingga harus terbungkuk-bungkuk, dan terseok-seok. Hingga akhirnya perjuangan mereka bermuara pada kemenangan yang dicapai oleh para prajurit. 

Tak hanya gerakannya, atribut yang dipakai juga sarat makna. Contohnya seperti Udheng ini. Ikat kepala yang terbuat dari kain batik bermotif gadung warna hitam ini merupakan lambang persatuan dan kesatuan dari para prajurit. Dan warna hitam sendiri melambangkan sikap yang tegas, adil dan berwibawa.

2. Tayub. 

Tayub pada dasarnya adalah kesenian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial antar masyarakat. Tayub berasal dari kata “ta” (ditata) dan “yub” (ben guyub) artinya diatur agar tetap rukun dengan rasa persaudaraan (Soedarsono, RM. 1978. Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia)

Umumnya struktur besar dalam Tayub itu ada nguyu-nguyu, bedhayan/gambyongan, gedhog, dan juga ngibingan. Yang membedakan tayub Tulungagungan dengan tayub di daerah lain adalah pada bagian gambyongannya yang menggunakan gerakan gambyongan mari kangen, gerakannya lebih sigrak karena musik atau gendingnya punya pola kendangan yang lebih dinamis dan variatif. (Sari, Femilia Kristian Arum. 2018. Kreasi Penyajian Kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung (Tinjauan Struktur dan Gaya). E-Journal Unesa : Vol 8 No 2)

Menurut kepercayaan masyarakat Tulungagung, menanggap Tayub, dapat memperlancar rejeki bahkan bisa memberikan kesuburan agar bisa segera mendapat keturunan. Maka dari itulah kesenian ini, masih sering ditanggap di acara-acara pernikahan atau acara desa. 

Di tempat kalian masih ada yang nanggap Tayub enggak?  

2. Kentrung. 

Kentrung merupakan bentuk kesenian yang menggunakan alat kendang yang dipukul secara menyamping serta diselingi lagu sebagai makna. Kemudian ada jaranan dan wayang kulit.  Kesenian jaranan di tulungagung tentunya masih diminati loh hingga sekarang. Kesenian wayang kulit juga menjadi salah satu icon di acara-acara besar loh sobat ratu. Dibalik pesonanya, wayang kulit juga memiliki makna atau kisah historis yang bermakna. 

Itulah tiga kesenian yang masih bertahan dan terus jadi warisan budaya yang dilestarikan di Tulungagung. Kalau kamu pernah nonton yang mana ?

 

Editor : Intan Puspitasari
#tulungagung #kentrung tulungagung #kesenian #reog kendang tulungagung #tayub tulungagung