KABUPATEN BLITAR - Memperingati Tahun Baru Islam 1445 H, sejumlah daerah menggelar doa bersama dan tasyakuran atau baritan. Utamanya di daerah yang kental dengan adat Jawa. Uniknya, dalam tradisi ini masyarakat ada yang membawa takir plontang dan melakukan doa bersama di setiap persimpangan jalan.
Takir plontang merupakan wadah yang terbuat dari daun pisang. Berbentuk seperti perahu dan dihias dengan janur yang disatukan dengan lidi. Takir tersebut berisi nasi dengan lauk pauk seperti ayam, sambal goreng, serundeng, mi, dan menu lain sesuai selera serta kemampuan masyarakat. “Umumnya hampir seperti isian tumpeng, tapi versi mini,” ungkap Musnaam, warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat.
Pria berambut gondrong itu menjelaskan, takir plontang merupakan simbol doa. Takir memiliki makna menata pikir, sedangkan plontang sebagai simbol pengawakan manusia. Yakni, manusia yang memiliki sifat lorek (belang) dan diberi oleh Allah SWT empat nafsu.
Wadah takir yang berbentuk segi empat melambangkan empat nafsu tersebut. Meliputi, nafsu aulama, mainah, riya, dan amarah. Makna keempat sudut wadah takir plontang yang diikat janur itu supaya manusia mendapatkan nur dari Allah SWT. Dengan begitu, manusia tidak menggunakan keempat nafsu itu sembarangan dan digunakan sesuai porsi sewajarnya.
Bagi masyarakat, lanjut dia, tradisi sebagai perwujudan untuk melestarikan budaya-budaya warisan nenek moyang. Leluhur terdahulu ketika berdoa tidak hanya secara lisan, tetapi juga menggunakan hati dan simbol-simbol seperti “ambeng” seperti takir plontang. Dengan demikian, selain berdoa juga diiringi dengan sedekah makanan. “Setelah didoakan, takir plontang itu akan dibagikan kepada orang lain dan dimakan bersama. Saling menukar takir sebagai bentuk kerukunan,” tandasnya. (mg1/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan