RADARTULUNGAGUNG.JAWA POS.COM- Pagelaran wayang orang dengan tema Sang Pandya Bathari memberikan pembelajaran. Yakni sebagai manusia harus selalu introspeksi diri dan terus berbenah untuk kedepan menjadi lebih baik.
Adegan yang dipertunjukkan dibuat simpel sehingga mudah dipahami oleh para pelaku, dan audiens tatkala pagelaran dilaksanakan di pendapa Lo’tus Garden, Minggu (30/7) malam.
Sebagai penulis naskah, Andi Prasetya mencoba untuk membuat cerita yang sudah lama ada tersebut, tetap bisa dinikmati dizaman sekarang. Cerita Sang Pandya Bathari tetap fokus pada Dewi Durga ketika harus diruwat dari seorang raksasa menjadi seorang dewi kembali dengan waktu sangat lama, namun disederhanakan agar kawula muda bisa menangkap pesan yang terkandung di dalamnya.
“Karena yang kita ajak dalam pagelaran ini mulai dari anak-anak yang usianya masih delapan tahun, terus ada yang belasan tahun. Karena melibatkan generasi muda, akhirnya kita harus sederhanakan lagi. Tantangannya adalah membuat pertunjukan ini simpel dan mudah dipahami,” jelas Andi, sapaan akrabnya.
Meskipun disederhanakan, dia menegaskan, masih ada pesan moral yang terkandung dalam wayang orang bertema Sang Pandya Bathari ini. Pihaknya juga mengajak kepada para audiens untuk selalu membersihkan diri, atau dalam bahasa Jawa adalah ruwat sukerta di bulan Muharram atau Suro ini. Layaknya pembersihan diri yang dilakukan oleh Dewi Durga kendati tenggat waktunya sangat lama. “Refleksinya agar kita selalu berbenah, agar kedepan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ungkapnya.
Owner Lo’tus Garden Café dan Resto Tulungagung, Harry Yuwono menambahkan, secara rutin pagelaran yang berkaitan dengan seni dan tradisi dilaksanakan di pendapa salah satu kafe di Tulungagung itu. Alasannya, secara pribadi pihaknya ingin ikut melestarikan seni dan budaya Jawa di tengah-tengah perkembangan zaman dewasa ini. Utamanya adalah yang berhubungan dengan gamelan. “Karena gamelan itu setahu saya terkomplit ya di Indonesia. Memang di negara lainnya juga ada, namun tidak sekomplit ini,” jelasnya.
Harry berpandangan seni dan budaya yang dimiliki bisa saja akan menjadi peluang wisata Tulungagung. Dengan langkah yang dilakukan, diharapkan akan mampu menyebarkan budaya Jawa serta bisa menarik perhatian wisatawan dari luar daerah untuk datang ke Tulungagung. “Kita tahu bahwa orang-orang luar negeri banyak belajar seni di Indonesia, kemudian itu dibawa pulang ke negaranya bahkan ada yang membikin sanggar. Saya khawatir nanti anak-anak penerus kita belajar seni dan budaya Jawa malah dari luar negeri. Kalau ini kita tidak lestarikan, jangan sampai nanti dibajak negara lain,” jelasnya.
Sementara pada pagelaran wayang orang yang pada Minggu kemarin dilaksanakan, dia menyebut sasarannya adalah semua golongan masyarakat. Mulai dari pelajar, milenial sampai golongan yang sudah berumur. “Durasi memang dibuat tidak terlalu lama, bisa tidak bosan. Serta kita buat ceritanya agar bisa diterima oleh anak muda,” tutupnya. (nul/din)
Baca Juga: 5 Mitos Jawa yang Melekat Sampai Saat Ini, No.4 Serem Banget
Editor : Nanda Nila Alvinda