Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Andi Prasetya dan Keteguhannya Kenalkan Wayang Orang Untuk Anak Muda di Kota Marmer

Anggi Septian A.P. • Senin, 7 Agustus 2023 | 18:08 WIB

 

LESTARIKAN  BUDAYA: Andi  Prasetya saat  tampil dalam  pergelaran  wayang orang  di Cafe Lotus  Garden.
LESTARIKAN BUDAYA: Andi Prasetya saat tampil dalam pergelaran wayang orang di Cafe Lotus Garden.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Belajar wayang orang langsung di Jogjakarta, Andi Prasetya membawanya dan menyebarkan salah satu kesenian Jawa itu di Tulungagung. Puluhan anak-anak dari segala umur berada dalam dalam asuahnnya. Itu dinaungi dalam Sanggar Wayang Orang Cika Trengginas yang didirikan 2022 lalu.

Kesenian wayang orang di Tulungagung, mungkin masih kalah pamor dengan kesenian wayang kulit. Pun pelaku kesenian itu, juga sudah sangat jarang ditemukan. Hanya sisa beberapa sanggar saja yang masih fokus melestarikan wayang orang. “Saya melihat di lapangan, di satu kabupaten ini yang terdaftar ada 5 sanggar wayang orang. Tapi dari kelimanya ini, tidak tahu yang paling aktif siapa,” kata Andi kepada koran ini.

Andi sendiri, belajar wayang orang langsung di Jogjakarta, saat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Ketertarikannya karena melihat pergelaran (wayang orang) saja awalnya. Kemudian timbulah rasa suka, bahkan Andi terpanggil untuk melestarikan kesenian wayang orang. Bukan di Jogjakarta, melainkan di tempatnya dibesarkan yakni Tulungagung.

Dia bercerita, selama ini pergelaran wayang orang di Tulungagung hanya digelar pada momen-momen kebudayaan tertentu. Tidak ada jadwal pasti sebagai wadah bagi para pelaku didalamnya untuk mengeksplorasi kesenian wayang orang. “Kalau kondisinya begitu, kapan anak-anak Tulungagung bisa kenal dengan wayang orang,” katanya.

Menurut Andi, salah satu cara yang bisa dilakukannya agar wayang orang bisa tetap lestari di Tulungagung adalah membuat sanggar. Sanggar yang dia buat itu memiliki kantor sekretariat di Desa/Kecamatan Boyolangu. Memiliki sekitar 30 anggota yang terdiri dari siswa dan anak-anak se-Tulungagung. “Nekat saja membuat sanggar itu, karena kalau tidak begitu siapa yang akan menguri-uri (melestarikan) wayang orang di Tulungagung. Eman-eman,” akunya.

Di sanggarnya, anak-anak diajarkan berbagai hal yang berkaitan dengan wayang orang. Mulai dari tarian, gending, tata bahasa yang digunakan, tata rias setiap karakter wayang orang yang berbeda-beda, sampai koreografi di setiap cerita wayang orang. Dalam setiap pergelaran, Andi bertugas sebagai guru bagi anak-anak itu, penulis script sampai ikut memerankan tokoh-tokoh tertentu. “Salah satu program saya, jadi pergelaran wayang orang jangan hanya insidental. Tapi kalau bisa pertahun kita punya karya yang bisa dibedah. Sehingga anak-anak itu ada tujuannya, tidak hanya latihan saja,” ungkapnya.

Dalam hati kecilnya, sebenarnya Andi ingin membuktikan bahwa wayang orang tetap bisa bertahan di Tulungagung. Kendati banyak kendala yang dihadapi. Toh kesenian itu juga sudah sejak lama ada di Tulungagung yang lambat laun peminatnya kian menurun.

“Jadi nanti kalau orang atau akademisi ingin mempelajari tentang wayang orang, cukup di Tulungagung saja tidak usah jauh-jauh ke Jogjakarta. Bisa hemat biaya kalau begitu bagi mereka warga Tulungagung yang membutuhkan data tentang wayang orang,” katanya sambil tertawa.

Dia pun juga membuka diri bagi siapa saja, masyarakat dari segala golongan jika ingin belajar wayang orang bersamanya. Terpenting, dalam melestarikan budaya yang dibutuhkan adalah keseriuasan dan konsisten dalam menekuninya. “Menjaga konsistensi itulah yang menjadi kendala besar dari organisasi kesenian di Tulungagung,” tandasnya.

Dalam menjalankan sanggarnya, selama ini tidak ada campur tangan dari pemerintah ataupun penyandang dana. Sehingga, eksistensi Sanggar Wayang Orang Cika Trengginas yang Andi buat berpegang teguh pada konsistensi dan keseriusan anggota-anggotanya dalam melestarikan kesenian wayang orang. “Harus diakui ya, mereka latihan itu kan harus menyisihkan waktu dan tenaga. Tapi selama ini juga bisa berjalan meski kita seakan tanpa bantuan dari pihak lainnya. Ya mungkin ada beberapa orang yang benar-benar peduli, tapi itu tidak banyak,” tutupnya.(*/rka)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Sanggar Wayang Orang Cika Trengginas #tulungagung #kesenian #wayang orang