RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Usaha layang-layang sebenarnya cukup menjanjikan untuk ditekuni. Karena cukup di rumah saja, keuntungan sampai Rp 5 juta setiap bulannya bisa didapatkan. Seperti yang dilakukan Fery Riyanto, warga Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, yang sejak 23 tahun silam memanfaatkan hobinya bermain layang-layang sebagai ladang kehidupannya.
Pada medio 2000-an mungkin masih sangat jarang masyarakat yang berani memulai bisnis layang-layang. Namun, pada tahun-tahun pascareformasi itulah, Fery Riyanto pertama kali berani mendeklarasikan dirinya untuk usaha layang-layang. “Saya ini mulai usaha sekitar 2000. Sudah sangat lama dan mungkin menjadi yang pertama di Tulungagung,” ungkapnya.
Fery bercerita bahwa layang-layang memang bukanlah hal baru baginya. Karena sejak masih kecil, hobinya adalah bermain dan membuat salah satu permainan tradisional yang sering dimainkan masyarakat Indonesia itu. Alangkah lebih baiknya, dalam benak Fery waktu itu, bisa membuat hobinya tersebut sebagai hal yang bernilai ekonomi. Tentunya keinginan itu bisa dilakukan dengan cara memproduksi layang-layang yang cukup dikerjakan di rumahnya sendiri.
Mungkin karena hobi, usaha layang-layangnya bisa bertahan sampai dua dekade lebih. Bahkan, saat ditanya apa kendala yang selama ini dihadapi, Fery juga santai mengatakan tidak ada kendala yang berarti. “Kesulitan memang ada, terutama dalam mempelajari motif dan gambar-gambar layangan yang diproduksi. Tapi itu bisa kok dipelajari,” katanya santai.
Fery mengamini setiap tahun selalu ada tren jenis dan motif layang-layang baru yang wajib dikuasai para pembuatnya. Seperti akhir-akhir ini, yang lagi tren adalah layang-layang dengan motif kartun tertentu. Contohnya adalah layang-layang bergambar Angry Birds, Transformers, atau sejenisnya.
Dia sendiri dalam sehari mampu memproduksi 100 sampai 500 layang-layang dari berbagai ukuran dan berbagai motif dengan dibantu beberapa rekan kerjanya. Harganya berkisar antara Rp 14 ribu untuk layangan berukuran kecil sampai Rp 50 ribu untuk layangan yang berukuran lebih besar atau yang memiliki motif tertentu. Dalam satu bulan, usahanya yang diberi nama Pak Jito Layangan itu mampu menghasilkan omzet sampai Rp 5 juta. “Enaknya sih bisa diproduksi di rumah, toh bahan dasarnya juga cukup bambu apus, kain, dan lem perekat. Selebihnya adalah kreativitas,” ujarnya.
Faktanya, layang-layang produksinya tetap saja laku di pasaran. Pun, area pemasarannya juga tidak hanya di Tulungagung. Layang-layang Fery juga sudah merambah keluar daerah Tulungagung, bahkan sampai ke luar pulau. Terjauh mungkin adalah Pulau Kalimantan, sedangkan area langganannya adalah Bojonegoro sampai Pulau Madura. “Kadang langsung diambil sales-sales itu, ada juga pesanan dari orang yang menginginkan jenis dan motif layang-layang tertentu. Atau istilahnya custom itu lah,” jelasnya.
Saat musim kemarau panjang seperti ini, usahanya seperti memasuki masa panen. Karena pesanan yang datang bisa melebihi hari normal. Pengeluaran layang-layang setiap bulan juga cukup bergantung pada cuaca. “Kalau musim hujan biasanya pesanan sepi, karena tidak ada orang yang bermain layang-layang. Tapi kalau musim kemarau seperti ini, pesanan yang datang sangat banyak. Lebih banyak dari hari-hari biasanya,” tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.