RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Menak Sopal atau Ki Ageng Menak Sopal merupakan putra dari pasangan Ki Ageng Menak Srobo dengan Dewi Roro Amiswati, putri dari Ki Ageng Sinawang. Menak Sopal tumbuh dari perbedaan agama yang masih kuat toleransinya pada masa itu. Hal ini karena Ki Ageng Sinawang, kakeknya masih berpegang teguh pada agama hindu sedangkan Ayahnya, Menak Srobo sangat tekun menjalankan shalat meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Dalam suatu malam, saat Dewi Roro Amiswati sedang mengandung, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya ketika maghrib. Meskipun sudah diperingatkan sebelumnya, "Jangan biarkan ada seorang pun termasuk istriku untuk menemuiku pada saat shalat maghrib". Namun, sang istri pun bersikeras untuk melihat kegiatan ibadah suaminya.
Naas, fakta mengejutkan bahwa suami Dewi Roro Amiswati yang dikira suaminya manusia biasa yang memiliki kesaktian berubah menjadi seekor buaya putih. Dewi Roro pun kaget hingga menyaksikan buaya putih jelmaan suaminya tadi menghilang. Namun, sebelum itu Menak Srobo berpesan kepada sang istri untuk menamakan putranya kelak menjadi Menak Sopal. Hal ini agar kelak nama tersebut selalu diingat oleh Ayahnya.
Baca Juga: Menilik Sejarah Peradaban Islam di Tulungagung, Makam Kyai Bedalem
Bertahun-tahun berlalu, Menak Sopal pun tumbuh menjadi pria yang gagah. Ia mulai ikut campur dengan permasalahan desa, termauk membantu penduduk yang kekeringan. Sembari menyebarkan agama islam, Menak Sopal juga turut membantu para penduduk. Hingga dia mendapatkan gagasan untuk membangun sebuah bendungan (dam) sebagai sarana irigasi masyarakat.
Selama membangun dam, ia merasa masih gagal. Hal ini lantaran saat pagi dibangun, petangnya rusak lagi hingga terus menerus berulang. Hingga suatu ketika ada yang menyarankan untuk mengorbankan seekor gajah putih agar bendungan tersebut bisa diatasi. Kemudian, ia bergegas dengan para prajuritnya untuk mencari keberadaan gajah putih tersebut. Sampai di sebelah perbatasan paling timur, ia menemukan kediaman Mbok Rondo Krandon yang satu-satunya memiliki gajah putih.
Baca Juga: Ziarah Makam Ki Ageng Gribig, Airlangga Lestarikan Budaya Leluhur
Dengan kegigihannya, Menak Sopal memberikan wawasan kepada Mbok Rondo Krandon bahwa nantinya gajah tersebut akan dikembalikan. Namun, yang menjadi masalah adalah kepala gajah putih tersebut harus disembelih dan dibenamkan ke bendungan. Dengan begitu, rakyat Trenggalek bisa panen tiga kali dalam setahun. Dengan pertimbangan yang cukup matang, Mbok Rondo Krandon mencoba mengikhlaskan setelah mendengar pernyataan dari kakek Menak Sopal.
Sebelumnya, Mbok Rondo Krandon juga telah mengawasi Menak Sopal dengan memerintahkan prajuritnya berjaga di Gunung Pucanganak namun hasilnya nihil. Diketahui bahwa Menak Srobo telah membuat lorong yang tembus hingga Telaga Ngebel di Ponorogo. Hal ini berarti sebelumnya telah ada perundingan antara petinggi Kadipaten Ponorogo dengan Ayah Menak Sopal agar tidak terjadi pertumpahan darah.
Dengan dibangunnya sebuah dam tadi, rakyat Trenggalek berhasil panen tiga kali dalam setahun. Karena jasa Menak Sopal tersebut, banyak masyarakat Trenggalek yang memeluk agama islam secara bertahap.
Baca Juga: Nisan Makam Ki Ageng Menak Sopal yang Hilang
Editor : Nurul Hidayah