RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Kreatif adalah kata yang cocok untuk disematkan kepada Yudianto. Pria asal Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung tersebut berhasil memanfaatkan drum bekas menjadi kereta kelinci ala mobil lansiran Eropa klasik.
Kebanyakan dari kita sering melihat kereta kelinci atau lebih dikenal dengan istilah odong-odong yang biasa dijumpai di tempat-tempat wisata, yang berbentuk kepala kelinci, ular, atau yang lain sebagainya. Hal tersebut berbeda dengan odong-odong yang dibuat Yudianto. Meniru konsep mobil Eropa pada 1920-an, menjadikan karyanya tersebut beda dari yang lain.
Namun jangan salah sangka. Bahan baku kendaraan wisata ini justru dari drum bekas. Padahal, selama ini benda berbentuk tabung ini hanya digunakan ala kadarnya oleh masyarakat. Kalaupun kreatif bisa diubah menjadi perkakas rumah tangga.
Kepada koran ini, pria yang akrab disapa Yudi ini mengaku bahwa idenya muncul tatkala melihat drum bekas tidak terpakai. Otak kreatifnya pun berputar untuk mencari inspirasi pemanfaatannya. Hingga akhirnya, muncul ide untuk menjadi bahan bodi kereta kelinci. "Saya melihat drum-drum bekas ini sayang kalau tidak terpakai. Akhirnya, saya berpikir dan mencari inspirasi hingga menemukan ide untuk membuat kereta kelinci dengan meniru model mobil Eropa klasik," ucapnya.
Proses pengerjaannya pun tergolong singkat. Karena sudah terbiasa membuat karya otomotif, dia mampu membuat kereta kelinci itu hanya dalam waktu satu bulan. Yang lebih menakjubkan lagi, semua pengerjaan dia garap seorang diri. "Untuk membuatnya tidak terlalu sulit, onderdil juga sekarang carinya gampang, dibeli di online. Untuk mesin, kita pakai mesin sepeda motor Suzuki Shogun. Ya dibantu teman untuk masalah biaya, separo-separo, karena ini habisnya mencapai belasan juta," jelasnya.
Saat ini, karyanya tersebut sering disewa untuk kegiatan karnaval. Terlebih lagi di Agustus ini, mengingat banyak desa yang mengadakan karnaval kemerdekaan. "Pernah dipesan untuk karnaval di beberapa desa dan per hari saya tarik Rp 400 ribu. Kalau untuk kesehariannya, saya keliling di sekitaran Pinka dengan pasang tarif Rp 5.000 per orang," tuturnya.
Dia juga tidak menutup kemungkinan bahwa kereta kelinci tersebut akan dijual jika ada yang menawar dengan harga yang pas. "Ya kalau ada yang menawar dengan harga yang pantas, ya saya lepas, Mas. Saya juga sering kok menerima pesanan berbagai macam karya otomotif dari orang-orang," pungkas dia. (*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.