Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rahasia Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang Legend, Bertahan Tujuh Dekade di Dunia Kuliner Tulungagung

Anggi Septian A.P. • Rabu, 30 Agustus 2023 | 19:14 WIB

 

LARIS MANIS:  Sutris saat  melayani para  pelanggan  yang datang  di Ronde Pak  Petruk Cipto  Roso.
LARIS MANIS: Sutris saat melayani para pelanggan yang datang di Ronde Pak Petruk Cipto Roso.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Ronde Pak Petruk Cipto Roso yang ada di Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, sudah berdiri hampir tujuh dekade. Tepatnya dirintis pada 1955 silam. Selama ini, ronde dari tempat tersebut menjadi langganan beberapa bupati yang pernah memimpin Kota Marmer ini.

Siapa yang tidak kenal ronde. Ya, makanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan berbentuk bulat dan diberi kuah jahe ini cukup populer. Bahkan bisa jadi penghangat ketika cuaca dingin menyergap badan.

Di seantero Tulungagung sendiri ada banyak penjual ronde. Namun, Ronde Pak Petruk Cipto Roso merupakan satu yang legendaris. Kini bisnis keluarga turun-temurun ini dikelola Sutris. Pria asal Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, yang merupakan menantu dari Suraji alias Petruk ini merupakan perintisnya. “Bukan saya pendirinya, awal dirintis pada 1955 oleh ayah mertua saya, Pak Suraji alias Pak Petruk. Lokasinya dulu di seberang jalan ke bioskop Istana atau yang sekarang menjadi Barata,” jelas Sutris.

Sutris bercerita, sepeningggal ayah mertuanya, bisnis tersebut sempat dijalankan saudara istrinya. Namun tidak berlangsung lama karena saudara istrinya itu kurang telaten dalam mengelola. Karena waktu itu, Ronde Pak Petruk Cipto Roso belum seterkenal sekarang.

Barulah pada kurun waktu 1988, Sutris yang dibantu istrinya memberanikan diri untuk meneruskan usaha yang dirintis mertuanya itu. Tanpa disangka-sangka, bisnis itu berangsur mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam hal omzet.

Dia melanjutkan, nama besar bisnis rondenya itu dimulai pada kurun waktu 1988 sampai 1993. Kala itu, ada sebuah acara di kawasan Sendang yang dihadiri Bupati Tulungagung saat itu yakni Jaifudin Said, serta Gubernur Jawa Timur saat itu yakni Sularso, dengan hidangannya adalah ronde buatannya. Rupanya ronde buatannya membuat dua orang pejabat itu terkesan. “Saat mencicipi ronde di kawasan Sendang yang dingin, membuat mereka terkesan. Setelah itu, Pak Jaifudin Said memerintahkan ajudannya untuk mencari penjual ronde itu (Sutris). Saya juga sempat mendapatkan penghargaan dari mantan Gubernur Sularso,” jelasnya.

Sutris menyebut, setelah momen itu, bisnis ronde yang ia jalankan semakin dikenal hingga sering diundang untuk menyuguhkan ronde saat ada kegiatan di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa. Mulai dari Bupati Jaifudin Said sampai Bupati Maryoto Birowo, Sutris masih tetap menjadi pilihan saat pendapa ada hajatan tertentu.

Terbaru, Sutris diminta untuk menyuguhkan ronde saat Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Paku Alam X berkunjung ke Tulungagung. Yakni saat acara Muhibah Budaya Mataraman Yogyakarta di Tulungagung.  “Saya juga tidak menyangka kalau usaha ini bisa sampai seperti ini. Dikenal pejabat sampai mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur,” syukur Sutris.

Saat ditanya kenapa ronde buatannya menjadi pilihan para pejabat di Tulungagung, Sutris menjawab, itu karena resep ronde yang selama ini dijual masih menggunakan resep otentik peninggalan ayah mertuanya. Hanya terdapat beberapa modifikasi yang dilakukan, yakni terkait pewarnaan ronde yang tidak lagi menggunakan pewarna makanan.

Menurut dia, resep peninggalan ayah mertuanya itu berdasarkan resep ronde Semarang, Jawa Tengah, yang memiliki ciri khas warna-warni pada isian wedang ronde. “Cuma warnanya saja yang berubah, sisanya tetap sama. Karena dulu sempat mendapatkan kritikan dari pelanggan untuk tidak diberikan pewarna makanan agar sehat,” ungkapnya.

Selama 35 tahun terakhir, dia menggantungkan roda perekonomiannya melalui Ronde Pak Petruk Cipto Roso. Dari situ, dia bisa berangkat haji pada 2014 silam dan mengantarkan ketiga putranya meraih gelar sarjana.(*/c1/rka)

Baca Juga: Seblak, Kuliner Favorit Kalangan Muda

Editor : Anggi Septian A.P.
#tulungagung #Ronde Pak Petruk Cipto Roso #kuliner #kutoanyar