Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Alvan Ajizan Jadi Peniup Selompret jaranan Muda asal Desa Waung, Tulungagung

Anggi Septian A.P. • Kamis, 7 September 2023 | 17:57 WIB

 

BERBAKAT: Alvan Ajizan  sudah belajar selompret sejak  kecil. Kini berbagai tanggapan  telah dilakoninya.
BERBAKAT: Alvan Ajizan sudah belajar selompret sejak kecil. Kini berbagai tanggapan telah dilakoninya.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Dalam setiap pergelaran jaranan, seakan belumALVAL AJIZAN lengkap kalau tidak ada suara selompret jaranan yang dimainkan. Alvan Ajizan menjadi salah satu pemain alat musik tiup itu di Tulungagung kendati usianya masih 18 tahun.

Berbagai pementasan juga sudah dilakoni Alvan Ajizan yang juga pemuda asal Desa Waung, Kecamatan Boyolangu tersebut. Pemain selompret jaranan sudah cukup jarang ditemukan dewasa ini, apalagi yang masih berusia muda.

Mayoritas pemain selompret jaranan didominasi orang-orang seni yang sudah berumur. Itu karena proses belajarnya lebih susah dibanding dengan alat musik tradisional lainnya. Terpenting, pemainnya harus mengerti nada.“Yang susah itu adalah menyesuaikan nada. Karena kita harus memiliki rasa yang pas saat bermain selompret jaranan dengan musik yang dimainkan,” jelas Alvan Ajizan.

Baca Juga: Penghapusan Skripsi Bikin Mahasiswa dan Dosen di Tulungagung Full Senyum, Teknis Penilaiannya Jadi Gimana?

Rasa cinta terhadap dunia seni memang timbul pada diri Alvan Ajizan sejak usia dini. Untungnya minat itu didukung oleh orang tuanya serta mendapatkan fasilitas penuh dari lembaga tempatnya menimba ilmu.

Hal itu membuatnya menguasai hampir semua alat musik tradisional. Sebut saja mulai dari selompret jaranan, kendang, gong, kenong, dan lainnya. Tidak jarang juga, dia diajak untuk melengkapi pemain yang masih kurang dalam sebuah pementasan.“Saya tertarik dengan seni itu mulai dari kecil. Orang tua saya bilang, kalau memang minatnya di situ, ya harus diteruskan. Bahkan juga sempat dibelikan gamelan saat itu,” katanya.

Namun, khusus untuk memainkan selompret jaranan ini, Alvan Ajizan mengaku harus belajar secara otodidak atau belajar sendiri tanpa bantuan orang lain. Prosesnya panjang dan harus telaten untuk bisa menguasainya. Dia masih ingat betul saat harus menabung sejumlah uang demi membeli selompret jaranan impiannya untuk berlatih setiap harinya.“Dulu itu masih belum punya selompret jaranan, akhirnya saya berusaha bagaimana cara agar bisa memilikinya dengan membeli sendiri. Dari situ bisa belajar sendiri, otodidak,” katanya.

Baca Juga: Ciduk IRT Jaringan Kurir SS, Sita Total 24,43 Gram Sabu

“Selompret jaranan itu hanya bisa dipakai untuk pelog, slendro, atau gending-gending lama. Kalau lagu sekarang kan laras do re mi yang bisa menggunakan piano,” sambungnya.Dia menjelaskan, orang yang memiliki kemampuan dalam bidang seni cukup dibutuhkan oleh masyarakat. Belajarnya selama bertahun-tahun itu membuahkan hasil dengan banyaknya permintaan tanggapan yang datang.

Apalagi, pascapandemi Covid-19 kemarin, masyarakat seakan rindu dengan pentas seni jaranan dan sejenisnya sehingga banyak pihak yang mengundang. Dalam sebulan, rata-rata lima kali tanggapan dilakoninya.“Kadang juga tergantung bulan. Bulan Agustus kemarin, tanggapan sangat sering karena masyarakat banyak yang memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia,” kata Alvan Ajizan.

Baca Juga: Sejenak Bersama Kapolsek Sukorejo AKP Imam Subechi yang Hobi Tenis

Sebagai pelajar yang masih duduk di bangku kelas XII, Alvan Ajizan harus membagi waktu antara jadwalnya bersekolah dan waktu tanggapan.Jika ada permintaan tanggapan, cara yang dilakukan adalah mencari jadwal saat sekolah sedang libur. Dengan begitu, aktivitasnya di bidang seni tersebut tidak berbenturan dengan kewajibannya dalam menuntut ilmu di sekolah.

“Biasanya kalau tanggapan mencari hari libur sehingga tidak nabrak sekolah. Tapi kalau misal tim dari sekolahan tampil, itu juga bisa izin,” ungkap Alvan Ajizan.Dia menambahkan, pemain selompret jaranan harus dilestarikan. Karena dalam sebuah pertunjukan jaranan rasanya tidak lengkap jika tidak ada suara dari alat musik tersebut. “Bisa dibilang, intinya jaranan itu ada pada selompret jaranannya. Inti, istilahnya,” tutupnya sambil tertawa. (*/c1/din)

Baca Juga: Elektabilitas Prabowo Melesat Didorong Melimpahnya Dukungan dari Relawan Jokowi

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#selompret jaranan #tulungagung #musik tradisional #Alvan Ajizan