RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Sugeng, salah satu warga Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, punya hobi unik. Yakni mengoleksi lesung tua berbagai ukuran. Dia menganggap alat tradisional untuk mengolah padi menjadi beras itu masih mempunyai daya tarik untuk dikoleksi, kendati fungsi utamanya sudah lenyap.
Setidaknya ada empat lesung tua dengan berbagai ukuran di rumah Sugeng. Jika dilihat lebih dekat, kondisinya masih cukup baik dan sebenarnya masih bisa difungsikan untuk mengubah padi menjadi beras. Siapa mengira jika mayoritas dibuat 40 tahun lalu bahkan lebih.
“Penggunaan lesung di masyarakat itu paling akhir kira-kira pada dekade 1980-an sebelum ada mesin penggilingan padi. Jadi, lesung di sini itu paling muda dibuat sekitar 40 tahun yang lalu, bahkan bisa lebih dari itu. Saya yakin ada yang sudah 100 tahun lebih,” jelas Sugeng saat ditemui di rumahnya pada Minggu (10/9) lalu.
Sugeng mengungkapkan, keempat lesung itu didapatkan dengan cara yang tidak mudah. Karena setelah fungsi utamanya sudah hilang, banyak masyarakat yang memanfaatkan lesungnya untuk dibuat kayu bakar. Pun ketika masih ada sisa lesung di tengah-tengah masyarakat, sang pemilik pasti tidak akan mudah untuk melepaskannya ke orang lain. Mereka pasti memilih untuk mengoleksi barang yang saat ini sudah tergolong antik itu. “Mencarinya susah, juga mahal. Karena bahannya, kalau lesung zaman dulu itu pasti dari kayu jati atau nangka, dan pasti berusia tua. Satu lesung bisa sampai Rp 3,5 juta,” sebutnya.
Koleksinya itu pada prinsipnya bukan berdasarkan fungsi, melainkan karena keinginannya yang besar untuk melestarikan lesung sebagai sebuah tradisi masyarakat Jawa secara umum. Sugeng menjelaskan, lesung menggambarkan bagaimana budaya gotong royong masyarakat zaman dahulu. Untuk menghasilkan beras, satu lesung berukuran besar harus ditabuh minimal empat ibu-ibu agar menghasilkan suara khas.
Kemudian, orang zaman dulu membuat lesung juga tidak sembarangan. Dia mengatakan bahwa beberapa lesung dibuat dengan ritual tertentu, entah puasa ataupun melekan malam. Dengan demikian, tidak jarang beberapa lesung mempunyai nilai magis tersendiri. Pun ada omongan orang lama bahwa tidak boleh melangkahi lesung secara sembarangan. “Contohnya ini (salah satu lesung miliknya, Red), kata teman saya yang bisa melihat hal gaib itu ada penunggunya, yakni sosok sepasang laki-laki dan perempuan. Meski tidak tahu pastinya, tapi kata orang pintar begitu,” tuturnya.
Dia meyakini, berjalannya waktu, lesung akan semakin memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai barang antik. Hukum ekonomi yang berlaku menerangkan bahwa semakin sedikit komoditas yang ada, maka harganya semakin mahal. Kondisi lesung saat ini pun begitu, barangnya sudah sangat jarang ditemukan dan hampir tidak ada pembuatnya. “Sebenarnya banyak juga yang datang melihat lesung ini karena senang, kemudian menawarnya. Tapi, saya sendiri rasanya masih sangat eman untuk melepas. Karena mencarinya sangat susah,” ungkapnya.
Sugeng berpendapat bahwa dewasa ini masyarakat banyak yang terpengaruh budaya mancanegara. Seharusnya masyarakat juga tidak boleh melupakan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti wayang, ludruk, atau bahkan mengerti bagaimana lesung pernah membantu budaya agraris Indonesia. Maka, langkahnya untuk mengoleksi lesung itu merupakan salah satu tujuannya untuk mengenalkan peninggalan nenek moyang agar tidak hilang dimakan zaman. Agar generasi-generasi saat ini dan yang akan datang mengetahui sejarah lesung yang pernah ada di Tulungagung.(*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.