BLITAR- Somingan mejalni perjalanan heriok melangkahkan kaki, untuk melakoni rutinitas sehari-hari setelah usai azan Subuh sekitar pukul 05.00. Tujuannya produksi gula merah.
Warga Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, ini adalah salah satu pelaku usaha kecil yang memproduksi gula merah.
Sembari membawa dua jeriken dan senjata andalannya “deres”, dia pergi ke kebun kelapa yang tidak jauh dari rumahnya untuk bahan gula merah.
Satu per satu pohon kelapa dia naiki dengan membawa komplong (wadah berbentuk tabung, Red) yang terkait di sabuk khusus yang telah dimodifikasi di bagian belakangnya.
Komplong itu berayun ketika dia naik ataupun turun dari pohon kelapa. Di atas ketinggian 45 meter, Somingan mengganti komplong kosong dengan yang terisi nektar kelapa.
Sebanyak 30 pohon kelapa dia naiki tanpa pengaman yang memadai. Sedikit demi sedikit sari-sari itu terkumpul dan dimasukkan ke jeriken yang sebelumnya sudah dia bawa.
Setelah berjuang dari pagi buta sampai pukul 12.00, pria paro baya ini pun bergegas pulang. Sesampai di rumah, Somingan tidak langsung istirahat.
Sebaliknya, hasil jerih payah itu diterima oleh anak perempuannya untuk diproses menjadi gula merah. Dua jeriken yang dibawa Somingan lantas dituangkan pada wajan besar berdiameter kurang lebih 26 sentimeter.
“Prosesnya memang lama, berjam-jam. Setelah ini akan saya masak sampai tinggal sari yang mengendap,” ujar Ria Cristiani, putri Somingan.
Tidak tanggung-tanggung, proses memasak itu menghabiskan waktu sekitar 6 jam. Dengan bersabar menunggu, uap-uap air perlahan mengudara. Menyisahkan sari gula merah.
Tidak jarang karena panas yang menyengat, buih-buih dari sari kelapa naik. Bahkan terkadang tumpah karena penuh.
Untuk menanggulangi hal ini, Ria memasukan serutan kelapa yang sudah diparut ke dalam wajan. Dengan cara ini, buih-buih itu mengendap lagi.
Mendekati pukul 18.00, nektar yang sebelumnya encer mulai berubah kental dan berwarna merah.
Sejurus berikutnya, Ria menuangkan olahan nektar itu ke dalam cetakan dari potongan batok kelapa. Sekali cetak, Ria mengaku bisa mendapatkan sekitar 23-25 kilogram (kg).
“Ya, itu tergantung cuaca. Kalau musim kemarau itu sarinya kepala ada banyak. Namun kalau penghujan malah lebih sedikit, lebih banyak airnya,” ujar perempuan 31 tahun itu.
Setiap dua hari sekali rutinitas tersebut Ria lakukan bersama ayahnya. Menyuguhkan bongkahan gula merah yang ia jual ke pengepul. Jika gula kelapa itu belum terkumpul banyak, Ria akan selalu memasak.
Menghabisakan berjam-jam di depan tungku yang pembakarannya masih menggunkaan kayu. (mg2/c1/hai)
Editor : Didin Cahya Firmansyah