Tua adalah emas. Ungkapan ini dimaknai begitu dalam oleh Deni Dwi Arianto.
Saking gemarnya mengoleksi vespa antik, laki-laki asal Kecamatan Srengat ini rela merogoh kocek hingga puluhan juta.
Kecintaanya pada motor pabrikan Italia ini bermula sejak dia duduk di bangku SMA. Kala itu, Deni mewarisi satu unit vespa antik dari orang tuanya.
Di medio 1998, dia mulai berani menambah koleksi vespa antik. Vespa jenis Sprint 1973 dia beli dari tangan salah seorang rekan.
"Saya pernah membeli vespa antik ini dari kerabat saya seharga 1 ton gabah. Vespa antik ini tidak dijual selain kepada saya," kenangnya.
Beberapa waktu berselang, vespa jenis VBB keluaran 1965 dia beli. Tak tanggung-tanggung, Deni kudu merogoh kocek hingga Rp 20 juta untuk membeli barang antik ini.
Saking sayangnya dengan koleksi ini, Deni tak mau melepas jual kepada orang lain kendati pernah ditawar dengan harga mencengangkan hingga Rp 40 juta.
“Vespa jenis ini lebih dari lima dekade telah menjelajah membelah jalanan. Melintasi zaman ke zaman sampai pada akhirnya jatuh ke pinangan saya,” akunya.
Tak hanya tua dan antik, dia juga mengoleksi vespa dengan berbagai jenis dan dari berbagai tahun. Total ada 14 vespa yang dipunyai.
Mempunyai benda antik tentu bukan perkara mudah. Ketelitian dan perawatan harus diperhatikan.
Baca Juga: Mapolres Trenggalek Jadi Bengkel Dadakan untuk Pelanggar Knalpot Brong
Salah-salah koleksi vespa miliknya bisa menjadi rongsokan tidak bernilai.
Editor : Didin Cahya Firmansyah