BLITAR - Menjadi dokter gigi adalah dambaan Agus Sabtoni sejak belia. Walaupun impian itu sudah terwujud, banyak perjuangan keras yang dia lalui. Statusnya sebagai dokter spesialis gigi pun seketika mengubah hidupnya.
Meski status ekonomi keluarga dalam kategori menengah ke bawah, rupanya kondisi itu tak memupus harapan Agus Sabtoni menggapai impiannya. Yakni, menjadi dokter gigi.
Tak semudah mengedipkan mata, pria ramah ini harus memulai semuanya dari nol. Termasuk kuliah sambil kerja pernah dilakoninya demi membayar biaya pendidikan.
Warga Kecamatan Kanigoro ini mengaku, sebelum fokus di kedokteran gigi, dia lebih dulu menekuni pelajaran pembuatan gigi palsu. Selanjutnya, pada 1997 silam, dia menempuh bangku kuliah di Universitas Saraswati, Denpasar, Bali. Pada titik itulah dia mulai menyelami berbagai ilmu tentang kedokteran gigi.
"Ternyata memang tidak mudah. Tapi, karena saya sudah punya ketertarikan soal gigi dari awal, semuanya terasa sedikit ringan," ujarnya, lantas tersenyum.
Dia masih ingat besaran uang semester saat kuliah sekira Rp 1.250.000. Tak dapat dipungkiri jika nominal tersebut saat itu cukup besar. namun, beban biaya itu tak jadi masalah setelah bapak tiga anak ini memutuskan bekerja saat sore hingga malam hari. Pekerjaannya pun masih berhubungan tentang dunia kesehatan gigi.
"Selain itu, saya juga bukan berasal dari keluarga dokter. Bapak guru SD, ibu tukang foto. Semua itu karena usaha," tambah pria 48 tahun ini.
Pria yang menjabat Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar ini kemudian lulus dari universitas di Bali tersebut. Kabar baik pun datang saat dirinya masih berstatus sebagai asisten dosen (asdos).
Pada 2001, Agus terpilih menjadi penerima beasiswa di Universitas Tokushima, Jepang, khusus mendalami ilmu tentang gigi palsu.
Tinggal di Negeri Sakura pun memberikannya banyak pelajaran. Bukan hanya dari kedisiplinan untuk menempuh pendidikan, melainkan juga dari lini saling menghargai. Hal itu dia serap kala mengamati para dokter-dokter profesional melayani pasien.
Menurutnya, itu yang membuat bidang kesehatan di Jepang lebih maju dibandingkan negara lain. "Di sana, dokter mengantar pasien bahkan sampai parkiran. Mereka memang memperlakukan sesama makhluk hidup dengan luar biasa. Itu yang akhirnya saya praktikkan di sini," tuturnya.
Sekembalinya dari Jepang, Agus lalu mendaftar calon pegawai negeri sipil (CPNS). Dia pun berhasil lolos dan diangkat menjadi PNS. Di saat itulah, dia berpikir harus hidup layak.
Awal berdinas, dia ditempatkan di Puskesmas Kepanjenkidul. Berkali-kali tawaran menjadi kepala puskesmas datang, tetapi tidak diambilnya. "Saya saat itu tidak mau, lebih pengin jadi praktisi. Tentu karena dari sisi penghasilan lebih banyak," kenangnya.
Melalui berbagai pertimbangan, dia pun menjabat sebagai kepala puskesmas. Belum lama bertugas di kursi jabatan yang baru, laporan kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dipasung sampai di telinganya.
"Saya lihat ngeri. Tidak dikasih makan, tempat tidak layak, makan di situ, dan BAB di situ. Saya langsung tergugah. Saya selama ini fokus cari uang, padahal banyak masyarakat butuh kebijakan saya sebagai kepala puskesmas," bebernya.
Dia lantas menginisasi terciptanya posyandu jiwa untuk menampung sekaligus merawat sejumlah pasien ODGJ. Menurutnya, mereka tetap layak mendapat perlakuan bijak. Juga berhak pula menerima perhatian dari sesama.
"Dari situ pula, saya berpikir bahwa gaji bukan yang utama. Saya hanya ingin mamaksimalkan apa yang diamanatkan kepada saya, untuk melayani masyarakat," tandasnya.
Selain menjadi abdi negara, Agus Sabtoni masih membuka praktik setiap sore di huniannya. Dia dibantu sang istri yang juga dokter gigi. Serta memperlakukan setiap pasien dengan tulus, seperti yang dia pelajari dari masa-masa kuliah di Jepang. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah