Kecintaan terhadap kopi mendorong Upi Suprianto untuk mengangkat derajat ekonomi petani, khususnya di Blitar. Tak cukup di situ, cita-cita terpendamnya adalah memasukkan kopi khas pegunungan Blitar ini ke Indikasi Geografis.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Sananwetan, Radar Blitar
Warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, ini sudah jatuh hati dengan kopi sejak 2016 lalu. Tak sekadar suka menyeruput kopi, tetapi juga tertarik dengan seluk-beluk perkopian. Mulai proses tanam, perawatan, pengolahan, hingga pemasarannya.
Beberapa tahun terakhir ini, tren konsumsi kopi meningkat. Indikasinya muncul banyak warung atau kafe di sejumlah daerah, tak terkecuali di Blitar. Tak sedikit kafe, baik skala kecil hingga besar, yang menjajakan menu kopi berbagai varian.
Mengonsumsi kopi seolah menjadi gaya hidup bagi masyarakat kini. Utamanya bagi kalangan anak muda. "Saya melihatnya seperti itu. Industri kopi tumbuh pesat, termasuk di Blitar. Ini tentu menjadi peluang yang harus diperhatikan," ungkap Upi kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (27/9/2023).
Pria bernama lengkap Upi Suprianto ini memang tertarik dengan dunia perkopian. Dari situ, dia mulai mencari tahu sejarah kopi melalui berbagai referensi. Termasuk belajar mengolah kopi secara baik dan benar dengan rekannya.
Pengolahan yang dilakukan pun bukan sekadar secara tradisional, melainkan juga modern. Menggunakan berbagai peralatan modern. "Semua saya lakukan secara otodidak. Belajar lewat teman, dari buku. Termasuk dengan Mas Rian, Ketua ASKI (Asosiasi Kopi Indonesia) Blitar," terangnya.
Melihat peluang tersebut, Upi berinisiatif untuk mengembangkan industri kopi di Blitar. Terutama pada level petani kopi. Berdasar pengamatannya selama ini, petani kopi dirasa belum diuntungkan. Sebab, harga jual biji kopi mentah masih sangat murah.
Kondisi itu berbeda jauh ketika biji telah diolah atau di-roasting. Nilai harganya bisa melambung tinggi hingga tiga kali lipat. "Sekarang dari petani rata-rata Rp 30 ribu per kilogram (kg). Setelah di-roasting bisa sampai Rp 90 ribu. Kini harganya sedang naik," ujarnya.
Nah, demi meningkatkan derajat ekonomi petani kopi, Upi pun memutuskan untuk terjun ke sektor pertanian kopi. Meski tidak memiliki bekal ilmu pertanian dari lembaga pendidikan, bekal belajar dengan rekan-rekannya sesama pencinta kopi jadi motivasi. Dengan tabungan yang ada, dia lantas membeli sebidang lahan untuk menanam tanaman kopi.
Lahan tersebut berada di kawasan lereng Gunung Kelud, tepatnya di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Luasnya 2 hektare. "Mungkin ada sekitar 200 pohon. Jenis kopi yang ditanam robusta," jelas pria 30 tahun ini.
Editor : Didin Cahya Firmansyah