RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Sepulang merantau dari Pulau Sumatera sekitaran tahun 2018, Dimas Aris Prasetya nekat membuka usaha kafe bersama seorang temannya. Usaha yang dirintis itu sekarang sudah cukup berkembang dengan dua cabang yang dimiliki. Satu di Kecamatan Kalidawir dan satu di Kecamatan Tulungagung.
Nama kafe Onderan sudah tidak asing di kalangan anak muda Tulungagung. Namun, untuk sampai di titik sekarang, manajemen bisnis yang baik memang diperlukan agar bisa bertahan. Hal itu membuat Onderan bisa menjadi salah satu usaha yang selamat saat gempuran pandemi Covid-19 melanda Tulungagung beberapa waktu yang lalu.
Dimas bercerita, sebelum membangun kafe Onderan pada 2018, sebenarnya dia sudah pernah membangun sebuah warung kopi bernama Ruang Baca. Konsepnya adalah warung yang bisa menjadi lokasi para pelanggannya untuk membaca. Dengan banyaknya buku yang disediakan gratis untuk dibaca. “Namun, usaha itu hanya berjalan sekitar 1 tahun, dan setelah itu mati. Mungkin pasarnya tidak cocok jika dipraktikkan di Tulungagung,” ungkap Dimas.
Nah, setelah usaha pertamanya rungkad, Dimas memutuskan untuk merantau ke Pulau Sumatera sekitar tiga tahun lamanya. Dalam tiga tahun itu, banyak pembelajaran tentang pengelolaan kafe yang ia dapat karena pekerjaannya juga pada sektor tersebut. “Saya pulang merantau itu pada 2018. Setelah kurang lebih tiga tahun di Sumatera,” katanya.
Seakan tak kapok dengan kegagalan pertamanya, Dimas kembali membuat kafe tak lama setelah pulang dari rantauan. Usaha itu bermana Onderan. Cabang pertamanya adalah di Kecamatan Kalidawir. Dia menuturkan, di awal buka, Onderan Kalidawir langsung mendapatkan atensi dari anak muda dengan cukup ramainya pelanggan yang datang.
Berselang setahun, Dimas mencoba untuk membuka satu lagi cabang di Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung. Pembukaan pertama Onderan Kota itu cukup sulit dilakukan, karena bertepatan merebaknya pandemi Covid-19 yang banyak memengaruhi kemampuan ekonomi masyarakat. “Cukup berat awalnya, karena kita buka pas lagi ramainya pandemi Covid-19. Tapi, dari situ kita belajar untuk menggunakan subsidi silang pengelolaan, karena sudah ada dua cabang,” katanya.
Dimas berpendapat bahwa membuka sebuah usaha itu mudah dilakukan, bahkan semua orang bisa melakukannya. Namun, tidak semua orang bisa membangun sistem manajemen dalam usaha dengan baik. Dia selama ini menekankan pengelolaan usaha yang baik sehingga usaha yang dijalankan bisa terus konsisten. Di tahun kelima usahanya, dia mengungkapkan bahwa masih belum ingin menambah cabang lagi karena sedang fokus membangun sistem yang baik. “Mulai dari belanja, pengelolaan sumber daya manusia (SDM), dan manajemen usaha yang lainnya harus dipikirkan,” katanya.
Dia membeberkan, dari kedua cabang yang dimiliki, cabang kota memang lebih ramai daripada cabang Kalidawir. Karena, setiap wilayah juga memiliki karakteristik pelanggan masing-masing, dan pelaku usaha yang harus mencari formulasi terbaiknya. “Contohnya kalau di kota ini, kita bisa buka sejak pagi dan ada orang yang datang. Tapi kalau di Kalidawir, jika pagi buka tidak ada yang datang,” katanya.
“Di cabang kota ini, kita juga memilki harga yang lebih miring dari kafe-kafe tetangga. Mungkin itu yang menarik pelanggan kita yang pasarnya masih anak-anak muda,” tandasnya.(*/c1/rka)
Baca Juga: Cerita Isa Erika Nekat Merantau Buat Kerja Di Salon, Sekarang Sukses Bikin Bisnis Salon Sendiri
Editor : Anggi Septian A.P.