Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Aliyah Nabilah Bergelut di Bisnis Ecoprint di Usia Muda

Mukhamad Zainul Fikri • Selasa, 10 Oktober 2023 | 22:05 WIB

INDAH: Sebagian kain ecoprint hasil karya Aliyah Nabilah yang pernah menarik minat konsumen dari Malaysia dan Taiwan.(Foto: DOK PRIBADI UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)
INDAH: Sebagian kain ecoprint hasil karya Aliyah Nabilah yang pernah menarik minat konsumen dari Malaysia dan Taiwan.(Foto: DOK PRIBADI UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG - Ecoprinting merupakan teknik cetak dengan perwarna kain alami yang cukup sederhana, namun dapat menghasilkan motif yang unik serta otentik. Sedangkan hasil dari teknik tersebut bernama ecoprint.

Aliyah Nabila mulai mengenal dunia ecoprint sejak Desember 2020 lalu, bertepatan saat pandemi covid-19 melanda Tulungagung.

Gadis 22 tahun itu melanjutkan perkenalannya itu berawal dari melihat potensi alam di sekitarnya yang gemah ripah loh jinawi. Mengingat, bahan-bahan untuk membuat ecoprint sudah disediakan oleh alam sekitar. 

Baca Juga: Sejarah Penetapan Hari Batik Nasional

“Akhirnya brainstorming, kira-kira hal kecil apa yang bisa berdampak besar. Akhirnya terpilihlah Ecoprint, karena bahan baku daun-daun itu kan sudah ada di sekitar kita,” jelas Aliyah.

Menurut dia, pewarnaan alam ini bisa digunakan di berbagai media mulai dari kain, kulit hewan hingga kertas. Namun tidak semua daun bisa dipakai untuk menjadi pewarna, sehingga pelaku ecoprint harus banyak-banyak bereksperimen untuk mencari formulasi yang terbaik.

Hal unik dari ecoprint sendiri, setiap lembar pengerjaan kain pasti mendapatkan hasil yang berbeda.

“Jadi kita harus melihat usia daun, karakter daun, dan jenis daun. Rasa penasaran itu yang membuat aku jatuh hati sama Jejak Alam Ecoprint (nama usaha ecoprint yang dia rintis sejak 2020),” tandasnya.

Baca Juga: Penuh Makna Filosofis, Perempuan Asal Blitar Ini Kembangkan Motif Batik Jagadjowo

Ketika kain sudah diwarna menggunakan teknik ecoprinting, berbagi produk bisa dibuat. Aliyah sendiri, bisa mempoduksi hijam dengan produk turunan mulai dari moslem wear, headress, footware sampai home Decor.

Semua produk itu dia desain sendiri sehingga produk-produk yang dikeluarkan menjadi otentik dan memiliki ciri khas tersendiri ala Jejak Alam Ecoprint.

“Kalau penjualannya saya sudah menggunakan media sosial juga e-commerce. Membuat pasarnya bisa sangat luas. Mulai dari penjualan secara nasional, dan pernah juga hingga Malaysia dan Taiwan,” katanya.

Meski begitu, usaha ecoprint bukannya tanpa kendala. Menurut Aliyah, Ecoprint merupakan hal yang masih baru di Indonesia, sehingga masih perlu edukasi ekstra kepada calon customer untuk mau membeli produk yang dibuat.

Baca Juga: Kenali Ciri Khas Batik Tulungagung, Ada Perpaduan Warna Tak Sembarangan

Kemudian, proses membuat kain ecoprint juga sangat rawan mengalami kegagalan dan hasilnya tidak bisa diprediksi.

"Ecoprint itu rawan juga gagalnya, soalnya kita tidak bisa memprediksi hasilnya. Karena dari alam,” ungkapnya. 

Selain menjalankan usaha ecoprint, perempuan asal Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut itu juga kerap mengisi beberapa acara yang terkait dengan entrepreneur muda.

Sebagai bentuk regenerasi anak muda agar tidak takut untuk terjun menjadi seorang pengusaha muda.

“Aku mengisi beberapa acara di kampus-kampus tentang entrepreneurship. Tujuanku sebagai motivasi anak anak muda untuk semangat berkarya,” katanya.

“Saya juga ikut beberapa aktivitas seperti Pameran luar Tulungagung. Selain sebagai promosi Jejak Alam, juga membanggakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Tulungagung,” tandasnya.

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #ecoprint #cewek tulungagung #ecoprint batik #batik