Pontang-panting bertahan dari gempuran musim pagebluk tiga tahun lalu, membuat Retno Saputro putar otak untuk bertahan hidup. Bagaimana tidak, usaha kedai kopi yang dirintisnya terpaksa tutup akibat pembatasan mobilitas masyarakat kala itu. Alhasil, pria 40 tahun ini menemukan racikan bubuk kopi yang dilabelinya dengan merek Mbah Gareng.
MATLAUL NGAINUL AZIZ, Radar Tulungagung
Pantang menyerah bukan kalimat yang pantas disematkan kepada Retno Saputro. Meski usaha yang dirintis terpaksa tutup akibat keterbatasan mobilitas pada musim pagebluk tiga tahun lalu, hal itu tidak membuat pria 40 tahun ini menyerah untuk mengais rezeki. Hingga akhirnya, dia menemukan racikan bubuk kopi khas Tulungagung yang diberi merek Mbah Gareng.
Kepada Koran ini, Retno Saputro mengatakan, usaha kedai kopi yang dirintisnya sejak 2018 silam terpaksa gulung tikar akibat musim pagebluk melanda Tulungagung. Terhitung baru 1,5 tahun dia menjalani bisnis kedai kopi tersebut sebelum akhirnya tutup akibat pembatasan mobilitas.
“Baru berjalan 1,5 tahun kena pendemi. Akibatnya, kedai kopi milik saya sepi pengunjung hingga akhirnya tutup,” jelasnya Selasa (12/10/2023).
Memilih untuk gulung tikar dari usaha yang dirintis merupakan pilihan terakhir dari pria yang akrab disapa Retno ini. Namun, setelah pontang-panting bertahan dari kondisi tersebut membuatnya memutar otak agar dapat bertahan hidup.
“Ya akhirnya mau tidak mau harus bertahan hidup dengan memutar otak, agar apa yang saya punya bisa diputarkan menjadi rezeki,” ucapnya.
Retno akhirnya dapat meracik bubuk kopi khas dari sisa bubuk kopi yang dimiliki. Dari racikan bubuk kopi inilah, dia mulai menemukan harapan baru. Bubuk-bubuk kopi racikannya ia tawarkan ke warung-warung kopi setempat.
“Dari kedai itu kan ada sisa-sisa kopi. Nah ,itu saya racik dan giling sampai halus, lalu saya tawarkan ke warung-warung tetangga,” paparnya.
Pria asal Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, ini mengaku penawaran bubuk kopi racikannya tersebut tidak langsung berbuah manis. Dia masih kerap mendapat penolakan dari penawarannya tersebut. Hingga akhirnya, bubuk kopi racikannya dapat diterima salah satu warung kopi.
Adapun bubuk kopi racikannya tersebut ia labeli dengan merek Mbah Gareng. “Dari situ, ternyata bubuk kopi racikan saya diminati para pencinta kopi. Akhirnya saya kembangkan,” ungkapnya.
Bubuk kopi racikan Retno ini berbahan dasar biji kopi yang berasal dari petani kopi lokal di wilayah Sendang. Usai melalui beragam racikan, dia mengaku bubuk kopi yang paling laris di Tulungagung merupakan kopi dengan jenis robusta.
Kemudian untuk kemasan bubuk kopi racikannya ini, ada kemasan plastik dan toples dengan harga mulai Rp 12 ribu hingga Rp 48 ribu. “Saya sudah menjajal banyak bubuk kopi dari beragam wilayah, tapi yang paling laku di Tulungagung ini ya bubuk kopi jenis robusta asal Sendang itu,” tutupnya. (*/c1/rka)
Editor : Didin Cahya Firmansyah