Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Berbagi Cerita Perjalanan Hidup Dr Sekar Puspita Lilasari SpKK, Pernah Gagal Satu Hal sebelum jadi Dokter

Matlaul Ngainul Aziz • Selasa, 24 Oktober 2023 | 18:00 WIB
ULET DAN BERDEDIKASI: Dokter di RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Sekar Puspita Lilasari, SpKK.
ULET DAN BERDEDIKASI: Dokter di RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Sekar Puspita Lilasari, SpKK.

Di Hari Dokter Nasional, yang jatuh pada Selasa (24/10/20123), ada sosok-sosok menarik yang membagikan kisahnya. Termasuk dr Sekar Puspita Lilasari, SpKK, yang bercita-cita menjadi seorang dokter telah tumbuh sejak kecil.

Tak hanya berhayal untuk menjadi seorang dokter, dia mempersiapkan mulai dari pendidikan awal hingga masuk fakultas kedokteran. Perjalanan karir dari perempuan berusia 36 tahun ini tidak semulus itu, dia sempat mengurungkan niatnya untuk masuk fakultas kedokteran hingga sempat bertugas di luar pulau yang minim listrik.

Dokter yang akrab disapa dokter Sekar ini menceritakan sejak kecil ia telah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Hal itu berawal saat dia kerap mengikuti saudara yang bekerja dalam bidang kesehatan.

Pada kesempatan itulah, dia terinspirasi untuk menjadi seorang dokter. “Sudah dari kecil sebelum masuk TK. Dari ikut saudara itu jadi sering ketemu dokter dan bercita-cita menjadi dokter. Pada masa itu juga saya mengucapkan cita-cita saya kepada orang tua,” jelasnya Senin (23/10/2023).

Tentu, restu dan doa dari orang tua menjadi kunci suksesnya dalam menyandang status menjadi seorang dokter. Tak hanya itu, dia sangat mensyukuri peran orang tua dalam memilih sekolah-sekolah terbaik yang dapat mengantarkannya ke titik sekarang ini.

Lantaran mengetahui cita-citanya menjadi seorang dokter, dia berfokus untuk mempelajari IPA hingga ke jenjang pendidikan SMA. “Di sisi lain, saya juga berjuang untuk terus belajar agar dapat masuk IPA. Meskipun pada masa itu saya masih belum mengetahui apa itu IPA, karena masih kecil. Saya memperdalam pelajaran matematika, sains dan bahasa inggris,” ucapnya.

Berkat keuletannya dalam mempelajari hal tersebut, akhirnya dia berhasil masuk fakultas kedokteran melalui jalur UMPTN. Perasaan bahagian pun seakan mewarnai akhir perjuangannya untuk masuk pendidikan kedokteran tersebut.

“Saya juga pernah gagal. Jadi PMDK saya gagal, tidak bisa masuk fakultas kedokteran melalui jalur PMDK. Masukkan lewat jalur UMPTN,” paparnya.

Namun, dia terpaksa terbangun dari mimpi indahnya tersebut. Sebab, pada masa itu biaya pendidikan untuk mengenyam ilmu kedokteran identik dengan biaya yang mahal. Bahkan dia sempat mengurungkan niatnya untuk masuk fakultas kedokteran lantaran biaya yang cukup mahal.

“Dulu itu beasiswa tidak sebanyak sekarang ini. Jadi ya ketika orang tua sudah bersemangat mengarahkan dan saya juga bersemangat belajar agar masuk fakultas kedokteran harus dihadapkan dengan biaya,” ungkapnya.

Pada kebimbangan tersebut, orang tuanya pun berpesan apabila ingin merubah nasib harus dilakukan oleh diri sendiri. Pengorbanan dalam hal ini tidak seberapa dibanding apa yang akan diperolehnya di masa yang akan datang.

Baca Juga: Cerita Agus Sabtoni, Dokter Gigi Dinkes Kota Blitar yang Perdalam Ilmu Gigi Palsu Sampai ke Jepang

“Kita bisa memperjungkan hal itu, kita harus berkorban yang lebih banyak dari pada yang ada di depan mata. Jadi itu yang membuat saya memantapkan niat untuk melakukan daftar ulang dihari terakhir,” jelasnya.

Dokter spesialis kulit yang bertugas di RSUD dr Iskak ini mengaku, juga sempat bertugas di luar pulau saat menemani suami PTT di Kepulauan Riau Kabupaten Lingga. Kondisi listrik yang hanya menyala selama 6 jam pada pukul 18.00 hingga 00.00, membuatnya harus memutar siasat untuk menangani pasien.

“Dulu itu sempat menangani persalinan jam 02.00 dini hari. Lahiran itu dibantu dengan cahaya senter dari handphone. Jadi ya bagaimana cara menolong pasien dengan sumber daya yang ada,” ucapnya.

Kemudian untuk menumbuhkan cita-cita dokter pada anak, dia mengaku, perlu mengenalkan beberapa profesi atau role model untuk menjadi dokter. Tak hanya itu, mengembangkan mainset bahwasannya dokter tidak hanya berkutat pada pelayanan kesehatan.

“Dokter itu bisa berkembang, selain menjadi dokter bisa juga bergerak pada dunia pendidikan juga. Jadi ada dokter yang memang murni pelayanan dalam bidang kesehatan, ada bisa menjadi dosen di bidang pendidikan, ada juga yang ikut dalam kebijakan pemerintah,” pungkasnya. (ziz)

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#hari dokter nasional