BLITAR - Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, terkenal dengan kekayaan alam berupa buah belimbing yang melimpah. Kekayaan alam tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah warga setempat untuk mengolah belimbing demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Deretan pohon belimbing itu menghiasi setiap sudut rumah warga di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo. Hampir di setiap halaman rumah warga terdapat pohon buah berbentuk bintang tersebut. Belimbing memang sudah menjadi tanaman buah khas wilayah tersebut.
Karenanya, terdapat objek wisata edukasi belimbing yang dikenal dengan Agrowisata Belimbing Karangsari. Belimbing Karangsari merupakan salah satu varietas yang telah diakui dan menjadi hak paten.
Kini, berbagai olahan dari belimbing telah diproduksi warga setempat dan menjadi produk khas. Mulai produk berupa olahan makanan maupun minum.
Salah satunya adalah sirup belimbing. Binti Isriah menjadi salah satu produsen sirup buah tersebut. "Ya, sudah sejak 2007 saya memproduksi sirup belimbing. Seminggu sekali bisa tiga kali produksi,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Sabtu (21/10/2023) pekan lalu.
Awal memproduksi sirup tersebut karena melihat banyaknya belimbing yang tidak laku terjual. Belimbing tersebut memang tidak lolos penyortiran karena buahnya rusak.
“Jadi, buahnya itu tertekan dengan belimbing lain saat dikemas dalam peti. Kerusakan hanya terjadi pada sisi luar belimbing dan tidak memengaruhi rasa buah tersebut,” terangnya.
Dari situlah, muncul ide untuk mengolah belimbing yang rusak dan tidak laku di pasaran menjadi sirup. Meski rusak, rasanya tetap manis sehingga cocok untuk dijadikan sirup. Di samping itu, olahan sirup belimbing juga belum banyak ditemui sehingga memiliki peluang yang besar.
Perempuan 56 tahun tersebut memanfaatkan buah belimbing yang tidak dapat diperjualbelikan di pasar untuk diolah menjadi sirup buah belimbing berkualitas. Beliau biasanya memproduksi sirup buah belimbing setiap tiga hari sekali karena dalam sekali produksi bisa mencapai 100 botol.
"Pembeli biasanya membeli sirup buah belimbing untuk dijadikan oleh-oleh untuk kerabat, teman, dan keluarga di luar Kota Blitar,” katanya.
Bahan dasar pembuatan sirup buah belimbing ialah gula dan sari buah belimbing. Sirup tersebut dapat ditemui di berbagai pusat oleh-oleh khas Kota Blitar dengan harga Rp 20 ribu per botol. Produk sirup ini juga dapat dibeli di beberapa wilayah sekitar Kota Blitar, yaitu Kota Malang dan Kota Batu.
Salah satu konsumen atau pelanggan sirup belimbing adalah Lilik Ismiati. Dia mengaku memilih sirup belimbing karena murah dan rasanya cukup menyegarkan.
”Tak jauh beda dengan sirup lain pada umumnya. Setelah mengonsumsi sirup sari buah belimbing, badan saya menjadi lebih segar," katanya.
Di musim panas ini, menikmati segarnya sirup belimbing menjadi pilihan tepat untuk menghilangkan dahaga. Cukup ditambahkan es batu dan air putih, minuman sirup siap diseruput. Mengobati rasa haus di tenggorokan.
Tak sekadar menyegarkan, belimbing juga kaya akan manfaat. Di antaranya, menurunkan tekanan darah tinggi. Siapa pun bisa mengkonsumsi, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Manfaat lainnya yakni mencegah naiknya asam lambung karena ada kandungan terpenoid, flavonoid, dan mucilage yang dapat memperkuat lapisan dalam lambung dan usus.
Hingga kini, konsumen sirup buah belimbing tetap ada walaupun tidak seperti dahulu. Dampak pandemi Covid-19 menjadi penyebab utamanya. Jika ada masyarakat atau wisatawan yang ingin menikmati sirup belimbing bisa berkunjung ke produsen di Kelurahan Karangsari. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah